Kamis, 2 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Tidore Berdaulat (Lagi) di Nusantara...
Senin, 28 Mei 2012 | 13:10 WIB


Kompas/A Ponco Anggoro
Yunus Hatari (57), salah satu dari enam sowohi saat berada di rumah puji, rumah kediaman sowohi, di Kelurahan Gura Bunga, Pulau Tidore, Maluku Utara. Sowohi yang dipercaya bisa menjalin komunikasi dengan roh leluhur memiliki peran besar di Kesultanan Tidore. Kedudukannya bahkan setara dengan Sultan Tidore.
Oleh: A Ponco Anggoro
    Selama dua pekan pada awal April 2012, Festival Tidore kembali digelar di Maluku Utara. Beragam budaya warisan leluhur menjadi sajian utama. Inilah festival keempat dalam empat tahun terakhir guna mengembalikan pamor Tidore yang selama ini redup.  

    Hari baru saja memasuki tanggal 12 April 2012 saat pasukan kirab bergerak membawa obor dan panji-panji lambang kebesaran Kesultanan Tidore. Panji berlambang kalajengking dan pedang bermata dua tampak di antaranya.

     Inilah kirab untuk mengenang perjuangan Sultan Nuku (1780-1805) saat merebut kembali kekuasaan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda. Dari markas perlawanannya antara Patani dan Weda (sekarang di Kabupaten Halmahera Tengah), Sultan Nuku mendatangkan pasukan dari Halmahera Timur, Seram, dan Papua.

     Bersama Ternate dan Banda, Tidore merupakan pulau paling dicari pada abad ke-15. Rempah-rempah yang dihasilkannya ”menyedot” kapal-kapal Eropa mendatangi Nusantara.

     Mengembalikan Tidore sebagai magnet dunia dan Nusantara, dengan menonjolkan ragam budaya, obyek wisata, dan sejarah, kini menjadi obsesi Tidore.

Menghidupkan ”kadaton”
     Warga antusias menonton di jalanan yang dilintasi kirab. Di beberapa tempat, kesenian rakyat digelar untuk menghibur warga yang menunggu.

     Setiap pasukan melewati rute berbeda untuk menuju satu titik: Kadaton (Keraton) Tidore. Dengan begitu, semua desa/kelurahan di Tidore yang berjumlah 73 kelurahan dilintasi kirab.

     Di masa kekuasaan Nuku, Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaan. Kekuasaannya meluas ke arah timur, mulai dari Halmahera, Papua, Seram, Kei, dan Tanimbar di tenggara Maluku hingga wilayah yang sekarang masuk Papua Niugini dan pulau di Pasifik. Pantas banyak pulau di sana masih menggunakan nama Nuku, seperti Nuku Hifa, Nuku Lae-lau, dan Nuku Nona.

     Kirab pasukan menuju Kadaton Tidore itu telah menjadi agenda rutin setiap memasuki tanggal 12 April—tanggal saat revolusi Nuku—yang sekaligus ditetapkan sebagai hari jadi Kota Tidore Kepulauan sejak empat tahun lalu.
Kompas/A Ponco Anggoro
Tarian cakalele, dengan latar belakang panji-panji kebesaran Kesultanan Tidore, diperagakan saat upacara hari jadi Kota Tidore Kepulauan ke-904, di lapangan Kadaton (keraton) Tidore, Pulau Tidore, Maluku Utara, 12 April lalu

     Festival ini sekaligus bermisi mempererat persaudaraan 90.055 penduduk Tidore. Salah satunya terlihat dari setiap obor dan panji memasuki kelurahan baru—pesan leluhur untuk tidak memfitnah, menghina, dan menjaga tali persaudaraan disampaikan dalam bahasa Tidore.

    Salah satu tradisi sarat nilai budaya dan sejarah yang ditonjolkan adalah lufu kie, yaitu prosesi mengelilingi Pulau Tidore dengan perahu tradisional.

    Lufu kie awalnya dilakukan sultan ke-22 Tidore, Sultan Saifuddin (1657-1674). Saat itu, dia mengerahkan semua pasukan mengelilingi Tidore untuk menunjukkan kekuatan Kesultanan Tidore kepada Belanda. Dengan cara itu, Belanda urung menguasai Tidore.

    ”Yang dilakukan Sultan Saifuddin coba kami hidupkan lagi. Namun, tidak untuk unjuk kekuatan pasukan, tetapi sebagai ritual agar Tidore selalu dijauhkan dari bencana,” kata Sekretaris Kesultanan Tidore Mohammad Amin Faaroek.

     Festival ini menjawab kegelisahan tokoh masyarakat, tokoh adat, serta pemerintah atas meredupnya Tidore dan budayanya. Mulai ”tenggelamnya” Tidore berikut budayanya perlahan terjadi setelah bangunan kadaton sebagai pusat kesultanan dibakar total pada 1912 oleh masyarakat akibat pengangkatan sultan yang tidak sesuai dengan tata cara kesultanan.

    Tidore kian tenggelam setelah Sultan Zainal Abidin Syah yang meninggal pada 1956 tidak ada penggantinya. Kekosongan takhta berlangsung hingga 1999 saat Djafar Sjah diangkat menjadi sultan ke-36 Tidore.

    ”Setiap tahun, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 1 miliar di APBD Kota Tidore untuk Festival Tidore. Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah agar budaya Tidore lestari dan pariwisata di Tidore berkembang,” ujar Wali Kota Tidore Achmad Mahifa.

    Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan Asrul Sani Sulaeman, ada peningkatan jumlah wisatawan ke Tidore setelah festival digelar setiap tahun. Jumlah wisatawan mancanegara yang biasanya tidak lebih dari 50 orang naik menjadi 200 orang dalam satu tahun.

Kompas/A Ponco Anggoro
Sekretaris Kesultanan Tidore Amin Faaroek menunjukkan mahkota Sultan Tidore yang telah berusia ratusan tahun, di salah satu ruangan, di Kadaton (keraton) Tidore, Maluku Utara
    Festival ini sekaligus menjadi ajang reuni warga Tidore dengan warga di daerah-daerah yang pernah dikuasai Kesultanan Tidore semasa kekuasaan Sultan Nuku. Hadir sangaji (kepala wilayah di struktur Kesultanan Tidore) dari Papua dan sangaji dari Halmahera Tengah yang mempersembahkan tarian.

    ”Baru pertama kali ini kami dari Papua datang ke Tidore. Kami para sangaji memang ingin merekatkan hubungan lagi setelah puluhan tahun ikatan persaudaraan putus,” ujar Tanjung Warwei (43), sangaji dari Raja Ampat, Papua. Di Tidore pula, Tanjung bertemu sejumlah warga yang ternyata masih bertalian darah.

     Kadaton mulai dibangun kembali oleh pemerintah sejak 1997 dan tuntas pada 2010. Sejak itu, Sultan Djafar Sjah kembali tinggal di kadaton dan memfungsikannya sebagai pusat Kesultanan Tidore. Mahkota sultan yang berusia ratusan tahun kembali ditaruh di kadaton. Sebelumnya, mahkota itu berada di museum di Tidore.

    Upaya merestorasi budaya Tidore ini juga berulang kali disampaikan Sultan Djafar Sjah semasa masih hidup sebelum wafat pada 13 April 2012. Hal itu kembali ia ingatkan kepada Achmad Mahifa yang menjenguk dirinya di rumah sakit.

    Djafar memandang budaya merupakan jati diri orang Tidore dan perekat tali persaudaraan.

    Sekretaris Dewan Kebudayaan Tidore Abas Mahmud mengatakan, Tidore ingin sumbangsihnya pada masa revolusi kemerdekaan tidak dilupakan.

    Sultan Zainal pun pernah menolak tawaran dari perwakilan Belanda yang diutus Ratu Wilhelmina, Letnan Gubernur Jenderal Van Mook, untuk merdeka atau bergabung dengan Belanda.

    Tidore ingin tetap mengglobal dan secara geopolitik diperhitungkan.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.