Oleh : Runik Sri Astuti dan Agnes Swetta Pandia

Remaja laki-laki di Desa Aengtontong, Pulau Madura, tak mau ketinggalan mengolah potongan besi menjadi miniatur keris. Mereka piawai memainkan berbagai peralatan pande besi untuk mengukir pamor meski tanpa makna pada sebilah keris kecil berukuran 10 sentimeter. Ali (15) tidak mempersoalkan harga keris buatannya hanya Rp 10.000 per bilah, karena dalam sepekan dia bisa membuat 10 bilah.
Karena mencari uang tidak terlalu sulit, para pande besi remaja itu pun memilih menjadi pembuat keris mainan ketimbang belajar di bangku sekolah. Bayangkan, seminggu minimal 10 bilah keris mini terjual.
Lebih dari 80 persen dari sekitar 1.700 jiwa penduduk di Desa Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, itu memang berkecimpung di industri keris. Pekan lalu, desa itu mendadak senyap dari desingan mesin gerinda dan mesin pemotong serta ketokan palu hanya karena listrik PLN hari itu mati.
Ketergantungan besar Aengtongtong akan energi listrik karena proses mengukir pamor dan menghaluskan keris menggunakan peralatan yang dioperasikan dengan listrik. Namun, masih ada yang memakai pahat dan palu, terutama untuk reparasi keris. Itu sebabnya, perajin Aengtongtong begitu kesal jika dalam sehari lampu padam berlangsung lama karena mereka harus menunda pekerjaan.
Tidak kurang dari 1.000 bilah keris dalam bentuk kasar dihasilkan setiap minggu. Pembeli keris pun berdatangan ke desa itu, termasuk pemilik galeri seni dan kolektor keris, atau perajin yang sekaligus pedagang membawa barang dagangan itu ke pasar tradisional di Pulau Madura.
Majalah Keris Vol 04/2007 menyebutkan, para pemesan keris kodian (massal) memang galeri seni dan paranormal. Bahan baku besi produk massal ini tak membutuhkan besi berkualitas karena umumnya dibuat sekadar untuk cendera mata. Sedangkan paranormal untuk kepentingan supranatural. Sementara keris berkelas dengan pamor tertentu, seperti bulu ayam dan blarak sineret, dibeli oleh kolektor dalam dan luar negeri.
Harga keris tanpa pamor untuk wilayah Pulau Madura dipatok Rp 400.000-Rp 500.000 per bilah. Jika setiap rumah menghasilkan sebilah keris, pendapatan minimal rumah tangga di desa ini per minggu Rp 400.000. Sebab, pembuatan dari batangan besi hingga menjadi sebilah keris berpamor membutuhkan waktu minimal satu minggu. Semakin pamor keris rumit, keris itu mampu mendongkrak harga hingga puluhan juta rupiah.
Heri Jaknal (24), perajin dan pedagang keris, sering membawa dagangannya ke Jakarta. Tidak sedikit perajin Aengtongtong bisa membuat keris halus termasuk pamor berupa ”ukiran” pada bilah keris itu. Harga keris yang bagus bisa menembus puluhan juta rupiah per bilah. Perajin biasanya menikmati untung 50 persen atau sedikitnya Rp 3 juta per bulan.
Yanto (24), perajin lain, bisa mengantongi penghasilan bersih minimal Rp 500.000 setiap minggu. Bahkan jika lulusan SMP itu mendapat order pembuatan keris ”halusan”, artinya yang berkualitas, meski hanya dua bilah tapi dengan pamor rumit, bisa mengantongi Rp 2 juta per bulan.
Empu Sukamdi, empu keris dari Solo, Jawa Tengah, dalam majalah Keris mengakui dari sisi pamor, keris Madura memang bagus, tapi dari segi estetika masih banyak kekurangan.
Boleh jadi, salah satu penyebabnya adalah keris produksi Sumenep itu umumnya tidak dikerjakan oleh satu tangan. ”Ban berjalan” itu adalah kolaborasi beberapa keahlian dari warga tiga desa di Sumenep. Desain pamor dan bentuk digarap perajin Aengtongtong. Pekerjaan selanjutnya pande besi di Lenteng Barat, dan Palongan, sampai akhirnya berupa kondhokan atau bahan keris siap dibentuk.

Pande besi di Desa Lenteng Barat dan Palongan, misalnya, umumnya mendapat bahan baku besi dari Surabaya, termasuk memanfaatkan besi bekas. Sedangkan peralatan sudah modern. Misalnya untuk menajamkan sisi keris digunakan api las. Dahulu kala, empu harus membakarnya di paron dan melumatnya di besi landasan tempa berkali-kali dan berlipat-lipat. Baru kemudian mengikir pamornya.
Bagi peminat keris, Aengtongtong dengan jaringan perdagangan tosan aji (benda pusaka)-nya itu sudah dikenal lama dan jadi pengetahuan umum. Yogyakarta, Solo, Surabaya, Madura, Jakarta, itulah pusat-pusatnya.
Secara khusus, Aengtongtong sebagai salah satu destinasi wisata kuat citranya karena berdekatan dengan pusat budaya Madura, yaitu Keraton Sumenep dan makam raja-raja di Astatinggi, semuanya di Sumenep.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep Mohammad Junaidi mengungkapkan, pihaknya telah membina 35 kelompok perajin keris dengan anggota 10-15 orang. Dibina pula perajin sarung keris dan topeng
Jika Anda ingin memesannya, Anda tak perlu naik bus sejauh 190 kilometer dari Surabaya ke Sumenep. Cukup berkomunikasi lewat telepon seluler dan ber- BBM (Blackberry Messenger). Pesanan disertai foto bisa disampaikan lewat BBM atau e-mail.
Bendahara Paguyupan Perajin Keris Aengtongtong Megaremeng Sanamo (41) mengatakan, pasar keris yang dihasilkan perajin tidak terbatas di Sumenep atau Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Pasar keris asal Madura ini melesat dan mencuri perhatian konsumen di Surabaya, Bali, Jakarta, hingga Malaysia. Dan tak berlebihan jika disebut, Aengtongtong bersama Desa Lenteng Barat dan Desa Palongan boleh jadi itulah desa industri keris terbesar di Nusantara ini. Riuh kesibukannya, riuh pula persaingan dagangnya.

Keunggulan keris Aengtongtong memenuhi unsur dhapur (bentuk), tangguh (perkiraan tahun pembuatan), bilah, dan pamor. Tiap keris tentu saja dilengkapi dengan warangka (sarung keris) dan deder (gagang pegangan). Harga menjadi mahal ketika warangka memakai kayu kemuning atau cendana dan deder memakai gading gajah.
Meski jalan Desa Aengtongtong yang sempit dan gersang hanya bisa dilalui satu mobil, sepanjang tahun turis Jerman, Belanda, dan Australia berdatangan.
Menurut Sanamo, turis asing terkesan pada Aengtongtong karena perajin di sini juga membuat keris Bugis dan keris Melayu. Kalau keris Jawa saja memiliki lebih dari 100-an pakem pamor dari beras wutah, melati rinonce, udan emas, bulu ayam, dan junjung drajat. Pamor yang terkenal di Madura, antara lain, karangtuak, kelem, kemorkali, juteketeh, dan cenengan telem.
Salah satu pusaka kontemporer ciptaan orang Madura adalah ”jangkris”, perpaduan senjata kujang dari Jawa Barat dan keris.