Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Pamor Aengtongtong Kian Tersohor
Selasa, 14 Februari 2012 | 14:56 WIB

Oleh: Runik Sri Astuti dan Agnes Swetta Pandia

video on demand

    Deretan keris dengan berbagai pamor memenuhi sebuah dinding rumah warga Desa Aengtongtong, Pulau Madura. Keris dengan harga puluhan juta rupiah itu siap mengisi galeri seni dan toko suvenir serta memenuhi pesanan kolektor di seluruh penjuru dunia. Madura ternyata telah mengawetkan tradisi purba itu.

  Pulau Madura dengan empat kabupaten, yakni Bangkalan. Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, tak hanya terkenal dengan garam dan batik berwarna ngejreng. Keris buatan perajin di Aengtongtong, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Jawa Timur, itu ikut mengisi bursa dan diskusi global tentang seni tempa dan benda pusaka dalam sejumlah situs internet. Madura bahkan disebut-sebut sebagai daerah paling produktif dalam jumlah dan varian kerajinan benda pusaka sekaligus barang dagangan yang menggiurkan.

    Pamor atau corak keris dengan pakem apa pun bisa dikerjakan secara halus dan detail. Jika tak hati-hati, penampilannya bisa mengecoh bak keris pusaka peninggalan raja-raja.

     Perajin keris yang disebut maranggi di Madura cekatan menatah pamor yang konon punya berbagai makna, termasuk membuat luk atau kelok bilah keris, warangka (sarung senjata), dan deder (hulu pegangan), serta melapisinya dengan berbagai logam mulia berharga. Berbeda dengan pertumbuhan industri kerajinan serupa di Solo atau Yogyakarta, pengerjaan keris tidak terpusat pada seorang empu di satu desa. Di Aengtongtong, kesibukan memproduksi keris mengubah desa tandus dan kekurangan air itu menjadi kawasan industri rumahan. Yang khas pula, industri rumahan itu berjalinan sebagai ”ban berjalan” antar-pande besi, yaitu antara pande besi Desa Aengtongtong dan desa tetangga, Lenteng Barat dan Palongan di Sumenep. Di Desa Lenteng Barat dan Palongan, sekitar 60 pande besi mengolah keris mentahan atau kondhokan.

Kompas/Bahana Patria Gupta
Perajin keris di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Selasa (7/2).

    Kedua desa yang berjarak 10 kilometer dari Aengtongtong itu menyiapkan keris ”sepertiga jadi” dan dua pertiga prosesnya dibesut di Aengtongtong dengan membuat pamor, membuat warangka, deder, dan hiasan lain.

    Tokoh perkerisan Madura, Zainal, menyatakan, Aengtongtong dan dua desa lain itu mampu menggarap keris halusan dan perajin setempat pun mampu mengerjakan penggarapan pamor hingga tatahan keris sampai detail sekalipun (lihat majalah Keris Vol 04/2007)

    Soal sumbangan Madura dalam perkerisan diakui sejumlah empu dan kolektor, termasuk Jimmy S Harianto, wartawan Kompas yang mendalami perkerisan. ”Meduro iku pancen elok. Seko buyut tekan mbah buyut iso gawe keris. (Madura itu memang hebat. Dari cicit sampai kakek buyut bisa bikin keris). Dan, itu merata di setiap rumah di sana,” kata Jimmy yang dalam wacana keris global namanya beken sebagai Ki Ganjawulung.

    Kepiawaian perajin Aengtongtong diperoleh secara otodidak. Namun, hasil karya mereka bisa membuat para pencinta amatir keris tak bisa membedakan antara keris pusaka, keris kuno, dan keris produk baru buatan Aengtongtong. ”Sayangnya, karya seni perajin Madura justru belum memiliki identitas khas karena terus dibanjiri pesanan dan mengikuti selera pemesan,” kata budayawan Madura yang juga kolektor keris, Edhi Setiawan.

    Majalah Keris mencatat, sejarah keterampilan perajin Aengtongtong merupakan titisan dari Empu Kelleng yang konon sempat tinggal di Aengtongtong dan memiliki anak angkat Jokotole. Mereka adalah bagian dari wibawa dan aset Keraton Sumenep. Empu Kelleng yang tinggal di Desa Pekandangan, Kecamatan Bluto, menjadi ayah angkat Jokotole, Raja Sumenep periode 1415-1460. Jokotole adalah raja yang tersohor dengan karya keris. Apalagi, keris buatan Empu Kelleng memiliki ciri khas, guratan dan lubang pada tangkai keris. Selain itu, juga selalu ada bekas pijatan tangan pembuatnya. Bahkan, konon sejumlah keris karyanya bisa berdiri sendiri dan berputar-putar ketika ada bahaya mengancam pemilik.

    Keris yang bisa berdiri beberapa saat sempat dipertontonkan Sanamo, seorang perajin. Keris dengan pamor bulu ayam itu pesanan seorang kolektor dari Bali yang harganya tak kurang dari Rp 5 juta. Keturunan Empu Kelleng kemudian hijrah ke Aengtongtong.

Kompas/Bahana Patria Gupta
Perajin keris di Desa Aeng Tong Tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Rabu (25/1). Keris atau pusaka yang dihasilkan dari desa tersebut terkenal oleh banyak kalangan mempunyai nilai estetika yang sangat tinggi dan bisa dihargai jutaan rupiah.

    Bambang Harsrinuksmo, penulis buku Ensiklopedia Keris yang tahun 1977 juga sempat tinggal di Aengtongtong, mengemukakan, generasi yang mendorong minat warga setempat mengerjakan keris adalah Fathor Rosyid, Jaknal, dan Yusuf.

    Besalen atau bengkel pembuatan keris modern pertama berkembang pada 1983 di Aengtongtong. Namun, kemudian terjadi ”pecah kongsi” dan memunculkan kelompok perajin baru di Desa Lenteng Barat dan Palongan. Heri Jaknal, putra Jaknal (alm), mengakui keris-keris karya ayahnya luar biasa bagus.

    Dan kini, setiap minggu, sedikitnya 1.000 keris diekspor dari Aengtongtong ke pasar keris Surabaya, Solo, Yogyakarta, Bali, Makassar, dan Jakarta. Sangat jarang karya perajin Aengtongtong keluar dalam wujud kelengan, telanjang tanpa pamor.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.