Oleh: Sonya Hellen Sinombor dan Siwi Nurbiajanti
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Sejumlah buruh berangkat ke lokasi tempat mereka bekerja di lapak-lapak bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Jumat (20/1). Keberadaan bawang merah telah menjadi penghidupan bagi ribuan warga di Kabupaten Brebes dan sekitarnya. Lahan Bawang merah seluas satu hektar dapat menyerap sekitar 400 pekeja dari buruh tani, pembersih bawang hingga buruh angkut.
Jalur pantai utara Jawa Tengah di Kabupaten Brebes menjadi saksi perjuangan para perempuan pemetik dan pembersih bawang merah. Di pinggiran jalan itu, tepatnya di depan Pasar Bawang Merah Pesantunan, Kecamatan Wanasari, hampir setiap pagi ratusan perempuan buruh berjejer menanti pedagang atau pengelola lapak pengeringan bawang merah yang membutuhkan tenaga mereka.
Para perempuan itu merupakan buruh yang bekerja membersihkan, menyortir, dan mengikat bawang merah yang siap dijual ke pasaran. Mereka dikenal dengan sebutan ”mbutik”. Setiap hari, mereka mengadu keberuntungan. Biasanya, mereka tiba di tepi jalan sekitar pukul 07.00 dan siap menunggu mobil bak terbuka yang akan membawa mereka ke sawah atau lapak-lapak penjemuran bawang merah.
Biasanya, para mbutik berangkat rombongan, sekitar 15 orang atau 20 orang dalam satu mobil, tergantung dari banyak sedikitnya kebutuhan tenaga kerja dari pedagang. Seperti yang dilakukan Teah (35), warga Desa Pesantunan, Kecamatan Wanasari, bersama sejumlah perempuan lainnya pada akhir Januari lalu.
Ibu lima anak ini setiap hari berjalan kaki sekitar 30 menit dari rumahnya menuju Pasar Bawang Merah Pesantunan. Selama 15 tahun terakhir ini, Teah mencari keberuntungan dengan menjadi mbutik bawang merah. Bersama ratusan hingga ribuan mbutik lainnya, dia bekerja dari pagi hingga sekitar pukul 18.00 dengan upah Rp 35.000-Rp 50.000.
Selain di Brebes, para mbutik juga bekerja hingga Pemalang, Weleri, Kendal, dan Majalengka, Jawa Barat. ”Kalau di Majalengka, kami menginap. Anak dititipkan ke neneknya,” kata Sumiyati (39), mbutik asal Desa Pebatan, Kecamatan Wanasari.
Para mbutik menuturkan, jika produksi bawang merah melimpah, mereka menjadi rebutan pedagang atau pengelola lapak pengeringan bawang. ”Pukul 07.30 saja, biasanya pasar sudah sepi mbutik karena semua sudah laku tenaganya,” tutur Sumiyati.
video on demand
Sebaliknya jika produksi bawang merah sedikit, para mbutik harus menelan kekecewaan tidak mendapatkan pekerjaan dan upah pada hari itu. Mereka juga harus merelakan ongkos angkutan yang dikeluarkan dari rumah menuju pasar bawang hilang.
Meskipun tidak setiap hari mendapatkan pekerjaan, profesi mbutik menjadi andalan para perempuan Brebes. Beberapa mbutik yang bersuami nelayan menjadi tulang punggung keluarga saat suami tak melaut.
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes memperkirakan, tiap satu masa tanam (dua bulan) dibutuhkan 560 tenaga per hektar (ha). Wakil Ketua HKTI Kabupaten Brebes Mashadi menilai, jumlah itu belum termasuk petani pemilik sawah. Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Brebes mencatat rata-rata kepemilikan lahan petani bawang di Brebes 0,2 ha. Dengan demikian, jumlah petani pemilik tanah sekitar 150.000 orang.
Jika luas panen bawang merah di Brebes sekitar 30.000 ha, jumlah tenaga kerja yang mengandalkan hidup dari bawang merah kira-kira 1,68 juta jiwa. Angka itu sama dengan 88,4 persen dari total penduduk Brebes 1,9 juta orang.
Selain di sawah dan lapak-lapak pengeringan bawang merah, pemandangan perempuan membersihkan bawang merah juga bisa disaksikan di los Pasar Bawang Merah Klampok, Brebes.
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
Buruh membersihkan bawang untuk memenuhi kebutuhan industri mi instan di Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis (19/1). Maraknya bawang merah impor yang masuk di pasaran menyebabkan harga komoditas ini pada tingkat petani merosot hingga Rp 1.000 per kilogram.
Setiap hari, puluhan bahkan ratusan perempuan duduk di antara tumpukan bawang merah membersihkan bawang merah dari akar dan kulit atau menyortir bawang merah yang rusak dan membusuk dari kumpulan bawang merah lainnya.
Kendati tangannya memegang dan memotong akar bawang merah, tidak ada satu pun di antara perempuan tersebut yang meneteskan air mata. Aroma pedas bawang merah sama sekali tidak mengganggu konsentrasi mereka. Tangan para perempuan tersebut begitu cekatan membersihkan bawang merah supaya cepat dimasukkan ke karung untuk kemudian dikirim ke pedagang bawang merah di luar Brebes.
”Saya nanti lembur sampai malam, soalnya ada pesanan 300 karung yang akan diambil nanti malam,” ujar Ipah (32), salah seorang mbutik, sambil menjelaskan, pemesan bawang merah itu adalah salah satu perusahaan mi instan terbesar di Tanah Air.
Ipah menuturkan, terpaksa lembur membersihkan bawang merah pukul 07.00-23.00 demi mendapatkan upah Rp 70.000. Suaminya petani bawang merah, tetapi panen bawang kali ini tidak memuaskan. ”Bawang kami cuma laku Rp 2 juta, padahal modal waktu tanam sampai Rp 16 juta,” ujarnya.
Kompas
Bagi petani bawang merah, bawang merah sudah menjadi bagian kehidupan mereka. Darmono (63), petani bawang merah di Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, mengaku menanam bawang merah sejak sekitar 35 tahun silam di lahannya seluas 1.800 meter persegi. Hasilnya jauh lebih besar ketimbang menanam jagung. Selain punya sawah dan rumah, dia juga mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga lulus SMA dan membeli sepeda motor. ”Sebelum menanam bawang merah tidak bahagia, setiap hari makan jagung terus,” tuturnya.
Pedagang dan petani punya kenangan manis dengan bawang merah. Sri Haryati (48), pedagang di Pasar Bawang Klampok, misalnya, sudah 30 tahun berdagang bawang merah. Hasilnya, empat anaknya jadi sarjana. Dia dan suaminya sudah dua kali menunaikan ibadah haji.
Tiap dua hari sekali, Sri memasok 16 ton bawang merah ke perusahaan mi instan di Jawa Timur (Jatim). Untuk proses pembersihan dan pengepakan bawang merah, dia mempekerjakan sekitar 20 tenaga, dengan upah Rp 50.000 per hari per orang. Sedangkan untuk 1 ha lahan, dengan hasil panen 10 ton, Sri butuh pemanen 50 orang.
Sebagaimana Sri, walaupun panen bawang kali ini rugi hingga Rp 15-an juta, Darmono bertekad tetap menanam bawang merah pada musim tanam berikutnya. Bagi Darmono, bawang merah telah memberikan kebahagiaan bagi keluarganya....