Oleh: Mukhamad Kurniawan dan Herlambang Jaluardi
Kompas/Mukhamad Kurniawan
Para pekerja memisahkan daun teh kering dari tulangnya di pabrik pengolah skala kecil di Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (19/12). Naiknya harga pucuk daun teh dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.200 per kg basah beberapa bulan terakhir memacu gairah petani dan pelaku industri teh rakyat untuk meningkatkan produksi.
Tumpukan 2.000 bibit teh di tepi kebun Rahmat Mufaroz (59) di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (20/12) pagi, bisa jadi pertanda baik. Setelah bertahun-tahun terpuruk, petani teh seolah mendapat kesempatan untuk bangkit. Inilah harapan di ujung senja.
Kenaikan harga pucuk daun teh basah—rata-rata kurang dari Rp 1.200 per kilogram (kg) sebelum tahun 2010 menjadi Rp 1.700-2.500 per kg tahun ini—menjadi kabar gembira bagi Rahmat dan petani teh lainnya. Situasi yang jarang terjadi sejak tahun 2001.
Periode tahun 2002-2006 menjadi masa paling sulit. Bahkan, karena harga jual teh tak sebanding dengan ongkos produksi, tak sedikit petani dan pemilik pabrik pengolah teh skala kecil bangkrut. Tanaman tak terurus, kalah subur dari tumbuhan liar. Produksi pun anjlok.
Di kebun teh rakyat, keterpurukan ditandai dengan alih fungsi lahan dari kebun teh menjadi kebun palawija, rumput pakan ternak, atau jadi kandang ayam. Sementara di kebun besar, lahan beralih fungsi menjadi kebun sawit.
Teh memang memiliki sejarah yang panjang, sehingga pekerjanya pun melintasi generasi. Pemetik teh Tating (63), misalnya, dalam 25 tahun terakhir kehidupannya tak banyak perubahan, kecuali tanggungan cucu yang bertambah dan tanggungan rumah yang makin payah. Pucuk daun teh di perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII Wilayah Parakansalak, Sukabumi tetap jadi harapan hidupnya karena tak ada pilihan.
Setiap pagi buta, Tating bersama suaminya, Emang (70), beranjak ke lahan perkebunan. Hasil pungut kakek-nenek bercucu 30 orang itu, Rabu (11/1), hanya 15 kg dan dibeli perusahaan Rp 550 per kg. Artinya, penghasilan mereka berdua pada hari itu hanya Rp 8.250. Kata Emang itu sudah cukup lumayan karena pada musim hujan ini pucuk teh baru bermunculan. ”Kalau lagi tidak ada hujan, hasilnya jauh lebih sedikit. Bisa dapat 5 kilogram satu hari saja sudah bagus,” ujarnya. Terkesan mustahil bagi pasangan renta yang masih menanggung hidup enam cucu untuk bertahan hidup dengan pendapatan sedemikian.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Sejumlah buruh pemetik teh menyelesaikan pekerjaannya di perkebunan teh di Ciater, Subang, Jawa Barat, Selasa (15/11). Menurut Pusat Penelitian Teh dan Kina PT Riset Perkebunan, produksi teh Indonesia terus merosot dikarenakan penyusutan lahan sekitar 2.584 hektar per tahun atau sekitar 1,7 persen. Hal tersebut berdampak pada produksi teh yang turun 1.470 ton per tahun.
Saat harga teh merangkak naik, Rahmat langsung bersiap memacu produksi teh. Sebagai langkah awal, dia meremajakan tanaman teh berusia 37 tahun dan mengganti tanaman yang ”sakit-sakitan” akibat serangan jamur.
Pagi itu, Ujang Safrudin (41) dan Wawan Gunawan (42) membantu Rahmat menambal sulam 24.000 teh tua di lahan seluas 3 hektar (ha) dengan bibit-bibit baru yang segar.
Lima kilometer jaraknya dari kebun Rahmat, belasan pekerja tengah membabat teh-teh tua di kebun milik PT Karti Wana Raya di Desa Sukadami, Kecamatan Wanayasa. Enda (75), mandor perusahaan perkebunan teh swasta itu, menyebutkan, dalam rangka memacu produksi, sekitar 10 ha dari total 45 ha kebun teh diremajakan sepanjang tahun 2012 ini.
Sebelum harga teh naik pada beberapa bulan terakhir, sejumlah petani, pengepul, dan pengusaha pengolah teh skala kecil menduga usahanya akan segera berakhir. Dimulai dengan telantarnya kebun-kebun teh petani, situasi menjalar ke gudang-gudang pengepul dan pabrik-pabrik pengolah skala kecil di kampung-kampung.
Di sentra teh rakyat Kabupaten Purwakarta yang tersebar di Kecamatan Wanayasa, Kiarapedes, Bojong, dan Darangdan, misalnya, tak sedikit pabrik pengolah teh tutup. Kelompok Teh Rakyat (Kotera) Purwakarta mencatat, 15 pabrik dari 27 pabrik yang ada di Desa Nangewer dan Pasirangin kini bangkrut atau mangkrak karena lama tak berproduksi.
Kotera dimotori oleh generasi muda anak-anak petani teh. Berangkat dari keprihatinan akan terpuruknya industri teh rakyat, organisasi ini berupaya membela dan memperjuangkan nasib petani teh, antara lain dengan memotong rantai distribusi, mendekatkan pabrik ke kebun petani, serta membantu sarana produksi.
Kompas/Mukhamad Kurniawan
Para pekerja memisahkan daun teh kering dari tulangnya di pabrik pengolah skala kecil di Desa Pasirangin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (19/12). Naiknya harga pucuk daun teh dari Rp 1.200 menjadi Rp 2.200 per kg basah beberapa bulan terakhir memacu gairah petani dan pelaku industri teh rakyat untuk meningkatkan produksi.
Akan tetapi, dominasi struktur pemasaran, situasi harga teh dunia, kenaikan harga bahan bakar minyak, dan beberapa sebab lain membuat sejumlah usaha mereka tak berhasil. Mantan aktivis Kotera Purwakarta, Imron (32), menambahkan, persoalan yang dihadapi petani terlampau kompleks dan sulit diselesaikan sendiri tanpa keterlibatan aktif dari pemerintah.
”Saat harga teh Rp 700 per kg, petani setidaknya harus mengeluarkan Rp 350 per kg untuk ongkos petik dan angkut. Dengan luas kepemilikan lahan yang rata-rata kurang dari 1 hektar, sulit bagi petani menggantungkan hidup hanya dari teh. Oleh karena itu, mereka beralih komoditas atau menumpangsari kebunnya,” papar Imron.
Kini tak mudah menemukan kebun-kebun teh rakyat yang kondisinya ideal, yakni tak ternaungi pohon dan bersih dari tumbuhan liar. Kebanyakan kebun telah heterogen dengan naungan pohon yang menutupi teh. Dengan kondisi itu, hasil panen teh dari satu patok kebun (luas 400 meter persegi) milik Arifin (32), petani teh di Desa Pasirangin, turun dari 200 kg menjadi 30-50 kg periode petik (20 hari).
Pada tahun 2006, kata Arifin, harga teh di tingkat petani pernah anjlok hingga kurang dari Rp 350 per kg. Akibat lebih rendah dari ongkos petiknya, tanaman dibiarkan tumbuh dan tak pernah dipetik. Kebun juga tak dirawat sehingga tinggi teh kalah dengan rumput liar.
Kondisi teh dunia
Apakah budidaya teh masih prospektif? Asosiasi Teh Indonesia (ATI) mencatat, umumnya negara penghasil utama, seperti India, RRC, Kenya dan negara-negara Afrika lainnya (perkebunan dan tanaman rakyat), Vietnam, dan Myanmar, melakukan penanaman baru setiap tahunnya dengan klon-klon unggul yang produksinya di atas 3 ton kering per hektar. Namun, Indonesia dalam 13 tahun terakhir tanamannya malah berkurang 32.600 hektar.
Produksi teh dunia juga terus meningkat dari 3.026.000 ton tahun 1998 menjadi 4.162.000 ton tahun 2010, atau naik 37,54 persen dalam 13 tahun. Indonesia malah turun dari 166.800 ton menjadi 129.200 ton. Konsumsi teh dunia juga meningkat dari 2.881.000 ton tahun 1998 menjadi 3.980.000 ton tahun 2010. Nilai itu naik 38,10 persen yang disebabkan oleh manfaat kesehatannya dan penyajian berbagai rasa.
Ekspor dunia pun terus meningkat dari 1.299.000 ton pada 1998 menjadi 1.729.000 ton tahun 2010, atau naik 33,1 persen. Ekspor Indonesia antara 90.000 dan 100.000 ton per tahunnya walaupun produksinya menurun. Ini berarti konsumsi dalam negerinya turun.
Harga teh Indonesia yang dalam dekade 1970-1980 selalu di atas Sri Lanka, tahun 1990-an turun posisinya ke nomor empat, setelah teh Sri Lanka, Kenya, dan Banglades. Ini akibat dari kualitas yang rendah dan lelang yang tidak sehat. Selama ini teh Indonesia tidak dapat dijual langsung kepada peminum di luar negeri karena mutunya tidak stabil sepanjang tahun.
Untuk menembus hambatan ini, teh Indonesia harus dicampur (di-blend) dengan teh dari negara lain. Kegiatan ini dilakukan oleh blender/packer di luar negeri yang kemudian menjual hasil blend ini ke pasaran dengan merk Lipton, Nestle, Pickwick, dan lain-lain melalui wholesale dan supermarket.
Bagi Rahmat, Enda, Imron ataupun Tating, kemilau peran para Pangeran Teh Parahyangan atau Preanger Planter tak berarti apa pun saat harga jual pucuk teh terpuruk.
Kenaikan harga selama beberapa bulan berturut-turut membangkitkan motivasi mereka, menjadi secercah asa di ujung senja. (Dedi Muhtadi)