Oleh Cornelius Helmy Herlambang
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Sejumlah pedagang tahu Sumedang menjajakan dagangan mereka di tepi jalan perbatasan Bandung dengan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (30/12). Tahu Sumedang yang dikenal sebagi makanan camilan dan oleh-oleh khas ini menjadi salah satu penggerak roda ekonomi masyarakat setempat dengan mengandalkan pengendara yang melintas di jalur tersebut.
Tahu kini menjadi penyambung hidup masyarakat Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Sedikitnya 232 unit usaha tahu mempekerjakan sekitar 1.500 orang. Itu belum termasuk sekitar 2.000 penjaja tahu di pinggir jalan. Tak kurang dari 1,2 juta tahu laku terjual setiap bulan dengan harga Rp 400-Rp 500 per buah.
Akan tetapi, deretan angka fantastis itu tidak lantas menghindarkan tahu sumedang dari ancaman. Fluktuasi harga hingga de javu mati surinya kawasan usaha kecil menengah di Purwakarta, Jawa Barat, akibat pembangunan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang menjadi bayang-bayang mimpi buruk perajin tahu.
Pemilik perusahaan tahu Mirasa Sindang Sari Hernawan Safari mengatakan, perajin sering kali tidak berdaya dengan fluktuasi harga kedelai dan ketersediaan kacang lokal. Kenaikan harga minyak goreng dan solar pun menambah panjang daftar kesulitan perajin.
Ia mengatakan, tanpa harga pokok pembelian, kedelai lokal bisa menembus Rp 7.500 per kg meski sesekali turun menjadi Rp 5.000 per kg. Harga itu jauh lebih mahal ketimbang kedelai impor antara Rp 4.000 dan Rp 6.000 per kg.
Saat ini, dari total kebutuhan kedelai antara 400 dan 500 ton per bulan, 60 persen di antaranya diisi kedelai impor. Padahal, kunci kelezatan tahu sumedang ada pada kedelai lokal. Kedelai lokal membuat tahu lebih kenyal dan tidak lembek. ”Kedelai impor juga tidak kuat disimpan lama. Maksimal 2-3 bulan harus segera diolah,” katanya.
Ketergantungan
Usaha mempertahankan diri pun dilakukan perajin. Untuk mengatasi kelangkaan kedelai lokal, Hernawan mengatakan, perajin mencampurkan kedelai lokal dan impor, 1:1. Tujuannya mempertahankan kualitas tahu dan mengurangi pembelian bahan baku. Saat hari libur, ia butuh 300 kg kedelai untuk memenuhi permintaan 13.000-15.000 tahu.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Sejumlah pegawai pabrik tahu Sumedang milik Hj. Ate di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menyelesaikan produksi tahu, Jumat (30/12).
Jika harga kacang terus melambung, ukuran tahu juga diperkecil. Biasanya perajin memperbanyak potongan per loyang (ancak). Dari 121 potongan ukuran 3 cm x 3 cm per ancak menjadi 141 potongan berukuran 2,5 cm x 2,5 cm per ancak.
”Harga jualnya tetap sama antara Rp 400 dan Rp 500 per buah. Namun, ada perajin yang legawa tidak menyunat ukuran tahu. Akibatnya, pendapatan mereka berkurang Rp 200.000- Rp 300.000 per hari,” kata Junaedi (36), perajin tahu di Cilengkrang, Kecamatan Sumedang Utara.
Mamay (45), perajin tahu di Sumedang Utara lainnya, mengatakan, usia minyak goreng juga dimaksimalkan. Bila idealnya diganti setiap hari, banyak perajin memakai minyak yang sama selama 3-5 hari. Dalam sehari, 5 liter minyak digunakan untuk 5-10 kali proses penggorengan. Tingginya harga minyak, Rp 14.000-Rp 16.000 per liter, jadi penyebab utama.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang Soenaryo mengatakan pasokan kedelai lokal jenis wilis di Sumedang sangat terbatas. Hal itu dipicu tidak menentunya harga dan kerumitan penanaman.
Data Badan Pusat Statistik Sumedang dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sumedang tahun 2010 menunjukkan, lahan kedelai mencapai 5.051 hektar dari total lahan palawija 34.518 hektar. Sentranya di Kecamatan Conggeang, Paseh, dan Kecamatan Jatigede. Dengan produksi 6.000 ton-6.500 ton per tahun, kedelai lokal Sumedang baru memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan usaha tahu per tahun. Sisanya diambil dari Garut, Kuningan, dan Majalengka serta mengandalkan kedelai impor.
Soenaryo mengakui, harga kedelai naik-turun akibat tidak ada harga pokok pembelian. Terkadang harganya melonjak menjadi Rp 7.500 per kg. Padahal, harga ideal Rp 4.000-Rp 5.000 per kg. Hal yang sama juga terjadi pada harga minyak goreng yang sangat tergantung kebijakan pemerintah pusat.
Megaproyek Pengetahuan petani soal menanam kedelai juga jadi kendala. Penanaman kedelai lebih rumit karena harus memerhatikan kesehatan tanah, ketepatan penanaman, dan perawatan intensif. ”Kami coba rangsang dengan memberikan benih gratis dan pelatihan setiap tahun. Tahun 2010 benih diberikan untuk 620 hektar. Per hektar mendapat 40 kg benih. Kami berharap produksi kedelai lokal naik 86 persen dalam lima tahun,” katanya.
Ancaman terbesar sebenarnya muncul dari pembangunan Tol Cisumdawu dan Bandara Kertajati. Cisumdawu adalah proyek tol menghubungkan Bandung-Cirebon. Selain mempercepat waktu tempuh, jalan tol yang diperkirakan menelan biaya Rp 5 triliun itu diklaim meringankan kemacetan Jatinangor dan kritisnya kondisi jalan tua di Cadas Pangeran.
Hampir serupa, Bandara Internasional Kertajati plus kawasan Aero City di Majalengka dan Sumedang dibuat untuk memperlancar aktivitas ekonomi Jabar melalui udara. Dengan biaya sekitar Rp 8 triliun, Kertajati diklaim bisa meringankan beban lalu lintas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Suhaedi (55), perajin tahu di Jatinangor, khawatir konsumen berkurang bila proyek itu selesai. Alasannya, sekitar 90 persen konsumennya adalah pelintas dari arah Cirebon atau Bandung. Ernawan (53), perajin tahu lainnya, mengatakan, pelintas pasti memilih masuk tol dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di rumah. Bila itu terjadi, nasib perajin pasti tinggal sejarah.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sumedang Ramdan Ruhendi mengatakan kepada perajin untuk tetap tenang terkait dengan pembangunan dua sarana transportasi yang menghabiskan sekitar 3.000 hektar lahan basah di Sumedang itu. Sejauh ini ia yakin kedua megaproyek itu bisa meningkatkan perekonomian Sumedang dan Jabar.
Penyelamatan diklaim sudah digagas. Di antaranya, rencana pembuatan rest area dan pusat oleh-oleh Sumedang. Integrasi dengan kawasan wisata juga akan ditingkatkan, di antaranya memaksimalkan wisata luar kota, seperti air panas Cipanas, Conggeang, dan Wado. ”Masa depan perajin tahu akan tetap diperhatikan. Kami juga tidak mau ikon tahu hilang dari Sumedang,” katanya.
Pasalnya, lanjut Ramdan Ruhendi, potensi tahu sumedang sangat tinggi. Tahun 2010, potensi nilai investasi tahu sumedang sekitar Rp 1,3 miliar dengan kapasitas produksi 202 juta kg per tahun. Sekitar 3.500 orang menggantungkan hidupnya dari sektor ini. Pekerja kasar, seperti penggoreng, pembuat adonan, dan pelayan, mendapatkan bayaran Rp 700.000-Rp 1 juta per bulan.
”Hal itu masih bisa ditingkatkan dengan variasi produk. Di antaranya, pengembangan jadi tahu bulat hingga tahu keju atau susu. Ia berharap konsumen mendapatkan sajian tahu dengan nuansa berbeda,” ujarnya.
Akan tetapi, bagi pemilik tahu Bungkeng, Suryadi, tahu bukan hanya usaha mengejar keuntungan. Menjaga warisan dan pesan leluhur adalah yang paling penting. Hal inilah yang menjadi motif mengapa ia tidak membuat cabang di luar Sumedang. Bahkan, ia mengatakan, bila suatu saat tahu sudah tidak populer lagi, ia berkomitmen untuk tetap berada di jalur ini. Penghasilan minim bukan masalah asalkan pesan orangtua tetap terjaga.
”Kakek saya, Ong Bung Keng, titip pesan, berapa pun hasil yang kamu dapatkan, apa pun pekerjaan yang akan kalian lakukan, tahu ini harus tetap ada. Jangan sampai mati,” kenang Suryadi.