Oleh: Rini Kustiasih dan Mohamad Final Daeng
Kompas/Rini Kustiasih
Sukarya (45), warga Kampung Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengecek bunyi terompetnya, Kamis (29/12). Menjelang Tahun Baru ini, warga Tegalan kebanjiran pesanan membuat terompet. Sukarya, misalnya, mendapatkan orderan terompet ampai 30 kodi saat tutup tahun ini.
Pret! Pret! Pret! Bunyi nyaring trompet terdengar dari rumah Sukarya (45), warga Kampung Tegalan, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Bunyi bising itulah yang senantiasa menghidupkan suasana malam Tahun Baru.
Bunyi sama pula yang menghidupi Sukarya dan ratusan warga lain di kampung pembuat trompet itu selama puluhan tahun.
Geliat penghidupan dari trompet, yang disebut sompret oleh warga Cirebon, begitu terasa ketika menelusuri jalan di Kampung Tegalan, Rabu (28/12).
Di kampung yang berjarak 15 kilometer arah barat pusat Kota Cirebon itu, rumah-rumah penduduk dipenuhi aneka warna dan ukuran trompet. Trompet digantung di teras hingga dipajang di halaman karena ruang yang tak mencukupi.
Aktivitas membuat trompet bisa dilihat di setiap rumah. Laki-laki dan perempuan berbagai usia sibuk menghias trompet, mengelem kertas kado bekas untuk selubung trompet, memotong hiasan rumbai-rumbai, dan mengecek satu per satu suara trompet dengan meniupnya: pret! pret!
”Kalau bunyinya tak enak, ya, harus diganti. Pasti ada yang kurang pas,” ucap Sukarya, pembuat sompret. Menjelang Tahun Baru ini, ia menerima pesanan sampai 30 kodi atau 600 trompet dari sejumlah daerah.
Setiap tahun, geliat membuat trompet dimulai sejak 3-4 bulan sebelum pergantian tahun. Bahkan, ada warga yang mulai membuat trompet sejak Juni. Pada akhir tahun seperti sekarang, Kampung Tegalan sepenuhnya menjelma menjadi ”pabrik raksasa” trompet.
Tak hanya menerima pesanan dari Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Brebes, dan Purwokerto, pembuat sompret Tegalan juga menerima pesanan dari Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, hingga Sulawesi Selatan. Jumlah pesanan sangat fantastis. Supeno (41), pembuat trompet lain, mencontohkan, ada pedagang asal Sumatera yang memborong enam kontainer berisi sekitar 60.000 trompet dari Tegalan.

Kompas/Mohamad Final Daeng
Salah satu keluarga di kampung Tegalan, Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon Jawa Barat, tengah bekerja sama memproduksi terompet, Rabu (28/12). Setiap perayaan Tahun Baru, kampung Tegalan yang sebagian besar warganya bergerak di usaha mainan tradisional menikmati rezeki dari pembuatan dan penjualan terompet.
Untuk Tahun Baru kali ini, Supeno memproduksi 270 kodi atau 5.400 trompet. Jumlah itu naik dua kali lipat dibandingkan dengan tahun lalu.
Kebahagiaan Supeno dan warga Tegalan lainnya berkat trompet tak bisa dipisahkan dari tradisi membuat mainan yang jadi roh kehidupan warga sejak 1960-an. Separuh dari total 600 keluarga di Tegalan adalah pembuat dan pedagang mainan tradisional, termasuk sompret. Karena itu, keahlian membuat trompet mengakar sejak lama.
Sesepuh Desa Jamblang, Kecamatan Jamblang, yang masih aktif menyediakan bambu untuk kerajinan mainan, Sukarna (70), menceritakan, orangtuanya dulu juga membuat mainan. Bedanya, dulu mainan dibuat dari tanah liat atau lempung. ”Saat saya kecil, orang tua membuat burung-burungan, boneka, dan pot-potan dari lempung,” tutur Sukarna.
Lempung yang dibuat mainan adalah lempung hitam. Ada jenis lempung lain di sana, yakni lempung merah. Lempung ini tidak bagus untuk dijadikan mainan. Oleh warga, lempung merah yang diberi nama ampo ini dijadikan makanan.
Ketika dicicipi, ampo berasa hambar di lidah. Baunya seperti tanah yang habis kena
hujan. Segar dan kadang getir.
”Barangkali orang tua kita dulu iseng-iseng. Yang dari lempung merah dimakan, yang lempung hitam dibuat mainan,” tutur Sukarna.
Seiring dengan perkembangan zaman, aneka mainan di Tegalan kini dibuat dari barang bekas dan limbah sepatu. Muncullah odong-odong, mainan tiruan mobil yang dibikin dari limbah karet pabrik sepatu. Lalu ada klithikan, mobil-mobilan dari bambu dengan roda karet yang jika didorong atau ditarik berbunyi klithik-klithik.
”Sompret dulu dibuat dari kertas biasa yang mudah rusak kalau kena
hujan. Sekarang sompret dibuat dari kertas karton,” kenang Sukarna.
Sitiwinangun Pada awalnya, lempung untuk membuat mainan berasal dari daerah di dekat Tegalan, bernama Sitiwinangun yang kini menjadi desa tersendiri. Maka, menurut pemerhati budaya Cirebon, Nurdin M Noer, secara filosofis, ada keterkaitan antara lempung dan tradisi membuat mainan yang memberikan kesejahteraan kepada warga.
”Sitiwinangun memiliki makna mendalam. Siti berarti ibu, perempuan, tetapi bisa juga tanah. Selayaknya ibu atau tanah pertiwi, ia memberikan penghidupan dalam bentuk wadak (wujud) dan rohani,” ucapnya.
Zaman berubah. Tren mainan anak-anak bergeser. Penjualan mainan tradisional Tegalan menurun karena kurang diminati, apalagi kini ada serbuan mainan plastik dari China.
Situasi itu membuat banyak pembuat mainan gulung tikar. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon, jumlah usaha kecil pembuatan mainan di Tegalan dahulu mencapai 100 unit, tetapi kini tinggal 43 unit.
Jenis mainan yang kuat bertahan hingga kini hanya trompet. Momen rutin perayaan Tahun Baru pun membuat pasar penjualan trompet ”abadi”. Selama tahun masih berganti, sepanjang itulah sompret Tegalan bakal bertahan. Keuntungan penjualan trompet menjelang Tahun Baru mampu menutupi minimnya keuntungan para pembuat dari hasil membuat mainan lain sepanjang tahun.
Saat Tahun Baru, pembuat sompret di Tegalan berbahagia karena keuntungan meningkat. Mereka tak henti berkreasi, mensyukuri nikmat apa pun yang diberikan oleh ibu pertiwi. Selamat Tahun Baru!