Kamis, 23 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Pergeseran dan Credit Union...
Minggu, 30 Oktober 2011 | 19:43 WIB

Oleh:  B Josie Susilo Hardianto dan Erwin Edhi Prasetya

KOMPAS/ERWIN EDHI PRASETYA
Masyarakat memperhatikan karya ukiran yang dipamerkan dalam acara Pesta Budaya Asmat ke-27 tahun 2011 di Agats, Asmat, Papua, Selasa (25/10). Bagi orang Asmat, ukiran tidak hanya sebatas karya seni, tetapi juga wujud ekspresi filosofi hidup dan spiritualitas mereka.

    Tidak selalu mudah menuju Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Jadwal pesawat dari Merauke dan Timika kerap berubah, entah karena cuaca, atau memang tak terjadwal. Apalagi saat ini, ketika pasokan avtur di Bandara Moses Kilangin, Timika, terhenti menyusul penutupan jalur distribusi bahan bakar ke pelabuhan oleh pekerja PT Freeport Indonesia.

    Sempat muncul ingatan tentang Agats beberapa tahun silam, dari foto-foto yang seorang kerabat kirimkan. Tentang rumah-rumah panggung dan jalan-jalan di kota itu yang seperti jembatan tanpa ujung. Tentang perahu-perahu dari batang kayu yang digunakan warganya menyusuri sungai-sungai kecil di antara belantara bakau dan hutan sagu.

    Namun, setiba di Agats, gambaran tentang kota lama di atas hamparan lumpur itu berubah seketika. Teknologi menyelusup dengan mudahnya hingga ke ruang-ruang privat warga. Jalan kayu itu kini tak hanya dilintasi pejalan kaki, tetapi juga warga yang mengendarai sepeda motor –dan umumnya pendatang. Sungai-sungai kini dilayari juga oleh perahu-perahu bermotor berbahan serat kaca. Memang menjadi lebih cepat, tetapi boros bahan bakar dan polutif.

    Sejak berkembang menjadi kabupaten mandiri tujuh tahun lalu, perubahan dahsyat itu dirasakan juga oleh Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM. Pada satu sisi kabupaten membawa berkat. ”Sarana diperbaiki, jembatan dan rumah dibangun. Tempat-tempat penampungan air hujan didirikan, dan dokter juga dikirim ke distrik-distrik,” kata Mgr Aloysius Murwito OFM.

    Setiap tahun setidaknya Rp 700 miliar anggaran belanja tercurah ke kabupaten itu. Namun di sisi lain, hadirnya program-program padat karya memunculkan sikap berhitung. Segala hal kemudian dihargai dengan uang. Semangat solidaritas berkurang, dan kemauan berbagi dengan tulus terancam. Kerelaan untuk membantu pupus. Pendeknya, tak ada uang, tak ada kerja.

video on demand

   Di beberapa tempat, jew– rumah adat–mulai ditinggalkan dan tak terawat. Padahal di dalam jew-lah, para tokoh masyarakat berkumpul di depan tungku utama, membahas berbagai persoalan di kampung, mencari jalan pemecahannya, dan membagi tugas untuk masing-masing fam.

   Dan, perubahan itu juga berpengaruh kuat pada relasi orang Asmat dan tradisi budaya mereka. Saat ini mereka mulai menggemari perahu motor daripada mendayung perahu tradisional Asmat. Ukir-mengukir pun mulai beralih makna.

   Erick Sarkol, Kepala Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats, menilai motivasi mengukir pengukir Asmat kini telah bergeser. Mengukir, yang semula berdimensi spiritual, kini berubah menjadi komersial. Vincent Cole, biarawan yang telah bekerja lebih dari 30 tahun di Asmat melihat perubahan itu datang sedemikian cepat. Pada satu sisi ia melihat hal itu positif karena pengukir mampu memberi nilai pada karyanya, tetapi di sisi lain kerap kali kebutuhan ekonomi mengendalikan motivasi mereka dalam mengukir. Ia pernah menemui seorang pengukir menjual murah karyanya yang sedemikian indah karena ingin membeli minuman.

   Ada pula tetangganya yang memperoleh banyak uang dari hasil lelang ukirannya memenuhi rumahnya di kampung dengan aneka perabot elektronik. Kondisi itu dikhawatirkan menghilangkan makna ukiran Asmat.

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO
Penari Asmat tengah mempersiapkan diri sebelum mengikuti pembukaan lelang ukiran, Selasa (25/10) lalu. Lelang itu merupakan bagian dari Festival Budaya Asmat ke-27.

   ”Sekarang motivasi mengukir untuk mencari uang, kalau dulu mengukir untuk pesta adat, untuk menjalin relasi dengan roh, jadi sifatnya sakral,” kata Erick Sarkol.

    Kondisi itu diakui Bupati Asmat Yuvensius A Biakai. Seiring perkembangan zaman, motif ekonomi lebih dominan melatarbelakangi pengukir Asmat dalam mematung. Akan tetapi, dalam setiap penyelenggaraan ritual atau pesta adat, mengukir untuk menjaga keseimbangan manusia dengan roh tetap dijalankan. ”Orang Asmat menjaga prinsip keseimbangan manusia dengan roh. Jadi tidak hanya terfokus pada wilayah ekonomi, mengukir dan mematung untuk ritual adat tetap terjaga,” katanya.

    Menurut Yuvensius, dari menjual ukiran, ekonomi warga cukup terbantu. Masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan selain dari berkebun dan mencari ikan. ”Dari ukiran, mereka bisa kasih uang untuk anak-anak sekolah, untuk biaya kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari,” katanya.

    Paulus Pas (37), pengukir dari kampung Yasiw, Distrik Atsj, yang belajar mengukir dari Donatus Aneyamas, ayahnya, mengaku, mengukir sebenarnya tidak bisa menghidupi keluarganya. ”Satu bulan mungkin cuma dapat Rp 150.000-Rp 200.000 dari jual ukiran. Biasanya orang kapal yang beli,” katanya.

   Oleh karena itu, selain mengukir, ia juga berkebun dan mencari ikan. Dalam Pesta Budaya Asmat 2011, ukirannya berupa patung cerita, lolos diikutkan dalam lelang. Patungnya menceritakan seorang pria bernama Warosimit menangkap seekor elang. Setelah dipelihara, elang menjadi sangat jinak dan ke mana-mana si elang selalu bertengger di kepala Warosimit.

  
Menabung
    Untuk mencegah pengukir-pengukir Asmat membelanjakan habis uang hasil lelang ukiran, Keuskupan Agats, melalui Credit Union (CU) berinisiatif menjaga mereka. Saat lelang digelar, CU membuka gerai dan menganjurkan pengukir menyisihkan sebagian uang hasil lelang untuk ditabung.

    Mgr Aloysius Murwito OFM mengatakan, melalui tabungan itu, masyarakat dilatih untuk mengelola keuangan mereka. Saat ini sebagian pengukir sudah menjadi nasabah CU. Bagi yang telah menjadi nasabah dan memiliki pinjaman, mereka dilatih bertanggung jawab untuk mengangsur dan melunasi kewajibannya. ”Mereka mudah tergoda untuk belanja dan tidak ingat lagi apa yang diinginkan pada awalnya. Maka lebih baik bila sebagian ditabung agar uang itu dapat dimanfaatkan dengan tepat. Kalau tidak dilatih tidak akan ada perubahan,” ujarnya.

   Dalam lelang itu, seorang pengukir, Eligius Ari (42), dari kampung Biopis, Distrik Fayit, mengantongi Rp 7 juta setelah tifa yang dibuatnya selama tiga minggu dibeli peserta lelang. Sebanyak Rp 1,3 juta ditabungnya melalui CU Keuskupan Agats. Sisanya, Rp 5,7 juta dibawa pulang dan akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. ”Untuk beli beras, pakaian, gula, kopi, garam,” ungkap Ari.

   Melihat itu, Mgr Aloysius Murwito berharap, mereka tidak akan menghabiskan uang tersebut di kios-kios….

 

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.