Rabu, 30 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Asmat pada Sebuah Kayu
Minggu, 30 Oktober 2011 | 19:30 WIB

Oleh:  Erwin Edhi Prasetya dan B Josie Susilo Hardianto

KOMPAS/B Josie Susilo Hardianto
Dua orang penari Asmat tengah mempersiapkan diri mereka sebelum mengikuti pembukaan lelang ukiran, Selasa (25/10) lalu. Lelang itu merupakan bagian dari Festival Budaya Asmat ke-27.

    Bagi orang Asmat, ukiran tidak pernah berhenti sebagai sebuah karya seni. Inilah rahasia yang sering tidak menjadi sebuah perjumpaan, tak tersua oleh liyan - yaitu tetamu dan sobat dari luar komunitas Asmat di pedalaman Papua raya tersebut.

   Dalam buku pegangan pelelangan, John Ohoiwirin menuliskan kisahnya. Sekretaris Panitia Pesta Budaya Asmat Ke-27 itu menulis begini: suatu hari seorang lelaki uzur berambut keriting beruban dan berjambang lebat memasuki Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat. Tanpa ketuk, tanpa permisi, dia menuju ke sebuah ukiran di ruang koleksi pemenang lomba ukiran pesta budaya Asmat. Ia tak peduli dengan pengunjung lain. Kedua tangannya hanya disilangkan ke belakang seolah khawatir akan menjatuhkan ukiran lain. Tak lama kemudian dia melangkah pergi.

   Sejak 2004, hampir setiap bulan, lelaki tua itu selalu datang ke museum dan hanya sekejap menatap ukiran yang sama. Karena penasaran, John—yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga staf Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat—mengecek ukiran yang selalu ditemui lelaki tua itu di buku katalog koleksi.

   Di sana tertulis, ukiran berkatalog 96.001.4, Pengukir: Pius Paok asal Kampung Yufri, pemenang I kategori ukiran cerita pada Lomba Ukir Tahunan—sebutan awal Pesta Budaya Asmat Ke-15 tahun 1996. John kemudian tahu bahwa lelaki tua itu adalah Paok, si pengukir yang telah sekian tahun tinggal di kompleks pelabuhan feri Agats.

   Ukiran Paok terinspirasi dari mitos orang Kampung Yufri-Yaun tentang ular sanca (bini) yang berubah menjadi perahu dan membawa para leluhur Yaunakap dan saudara-saudaranya, Ewerakap, Ndendewakap, Yepemakap, dan Uwusakap, ke hilir Sungai Sirets.

 
Kosmologi
   Dirk A M Smidt dalam pengantar Asmat Art, Woodcarvings of Southest New Guinea menuliskan, seni ukir Asmat adalah sebuah bentuk komunikasi antara yang hidup dan yang mati, antara komunitas manusia dan dunia roh. Sebab, bagi orang Asmat, setiap entitas berjiwa. Dalam konteks itulah, menurut Dirk, cita rasa seni Asmat selayaknya dipahami.

 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru

   Boleh dikatakan, ukiran Asmat adalah representasi relasi antara manusia yang hidup dan leluhur mereka. Namun, tidak semua perajin layak disebut pengukir.

   Gunter Konrad dalam buku bertajuk Asmat menyebutkan, hanya mereka yang memiliki kemampuan mengukir sekaligus segudang pengetahuan mitologi yang memberikan keotentikan kepada seninya yang layak disebut wow cescu ipit atau ahli ukir ternama.

   Wow cescu ipit, tulis Gunter Konrad, adalah penjaga warisan mite masyarakat. Ia juga memiliki kemampuan untuk menguatkan ikatan antara alam orang yang hidup dan alam roh. Ia memiliki tenaga untuk menghadirkan roh dalam karyanya.

   Apa yang dituliskan oleh Gunter Konrad itu seakan menegaskan apa yang dikisahkan oleh seorang pemahat tentang legenda Fumiripits, sang manusia pertama. Dialah yang mengukir dua patung manusia, laki-laki dan perempuan. Dia pula yang menghidupkan dua patung itu dengan cara memukul tifa.

   Di satu sisi, hal itu merepresentasikan pencarian jati diri mereka dan di sisi lain menunjukkan nilai luhur dari sebuah karya seni. Hal itu yang mungkin dapat menjelaskan mengapa saat parade mengukir digelar pada Pesta Budaya Asmat 21-26 Oktober lalu, para pengukir dengan mudah memahat sebatang kayu. Tanpa bantuan pola atau gambar, mereka mampu mengukir balok kayu sepanjang 40 sentimeter itu menjadi patung manusia.

   ”Daya imajinasi mereka begitu kuat,” tutur Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito OFM. Boleh jadi, relasi yang jasmani dan yang rohani itu membentuk kosmologi Asmat yang kemudian diwujudkan dalam ukiran yang berbentuk patung manusia, binatang, hiasan pada tameng, mitos, diorama kehidupan sehari-hari mereka, hingga kerumitan motif ukiran panel yang sedemikian dikagumi oleh Mgr Murwito.

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO
Orang Asmat tak hanya dikenal sebagai pengukir. Orang Asmat yang tinggal di kawasan paling lembab di pesisir barat Papua itu juga dikenal sebagai pendayung yang tangguh. Dalam Festival Budaya Asmat ke-27 lalu, digelar pula lomba dayung pada Senin (24/10) silam.

   Menurut Yuvensius A Biakai, Bupati Asmat, yang pernah menjadi kurator Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, orang Asmat memiliki tiga pilar keseimbangan. Tiga pilar keseimbangan itu adalah relasi manusia dengan manusia, relasi manusia dengan lingkungan, serta relasi manusia dengan roh atau leluhur. ”Keseimbangan manusia dengan manusia berarti mesti melindungi sesama manusia. Melindungi ini muaranya adalah kedamaian hidup,” ujarnya.

   Demikian pula harmonisasi alam dan manusia. Jika manusia membenci alam, alam akan membenci manusia. Akibatnya bencana alam. ”Saat pesta adat, dimasukkanlah unsur magis roh leluhur ke dalam patung, untuk menjaga keseimbangan. Mereka memberi nama roh pada patung-patung itu yang diharapkan akan bisa menjaga hidup masyarakat,” ujar Yuvensius.

   Dirk A M Smidt dalam tulisannya, The Asmat: Life, Death and the Ancestors, menyebutkan, kematian memiliki makna khusus bagi orang Asmat. Tanpa kematian, tidak ada kehidupan, kesuburan, dan keberlangsungan komunitas mereka. Erick Sarkol, yang saat ini menjadi kurator Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat, mengungkapkan, totalitas hidup suku Asmat bersumber dari relasi personal dengan roh-roh leluhur. Relasi itu dijaga dan dipelihara melalui pesta atau ritual adat, kemudian diwujudkan dalam ukiran.

   Awalnya pengukir-pengukir Asmat memakai alat ukir sangat sederhana, seperti kapak dan beliung batu, pahat dari tulang burung kasuari, serta kerang. Kini, kapak besi dan pahat besi memperkaya dan mempercantik karya mereka. Banyak pengukir sampai kini masih menggunakan pewarna alam arang, kapur putih, dan kapur merah. Sebagian memakai minyak goreng dan batu untuk mengilatkan kayu.

   Persentuhan dengan dunia luar tak ayal membuat pergeseran nilai-nilai. Dekade 1960-1970 adalah masa suram budaya Asmat. Banyak jew (rumah adat) dibakar dan kegiatan-kegiatan ritual adat dilarang. Situasi itu menimbulkan ketakutan di kalangan pengukir Asmat sehingga hampir di semua kampung tidak ada lagi ukir-mengukir.

   Untuk melestarikan nilai-nilai budaya Asmat berikut seni ukirnya, tahun 1981 Uskup Agats Mgr Alfons Sowada OSC merintis penyelenggaraan lomba ukir bagi warga Asmat. Tahun 1992, Pemerintah Kabupaten Merauke - Asmat saat itu adalah distrik di Merauke - bergabung untuk mendanai lomba hingga 2002.

   Tahun 2003, setelah Kabupaten Asmat dibentuk, Pesta Budaya Asmat digelar bersama oleh Keuskupan Agats dan Pemerintah Kabupaten Asmat. Dan pesta tersebut hingga kini terus digelar sebagai bagian dari perayaan jati diri manusia Asmat....

 

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.