Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Warga Adat Cireundeu
Identitas pada Sebakul Rasi
Senin, 26 September 2011 | 14:52 WIB

Oleh: Rini Kustiasih dan Dedi Muhtadi

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Neneng (31) warga Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, menanak nasi singkong dengan cara tradisional menggunakan kayu bakar dan kukusan, Jumat (23/9). Makanan nasi singkong atau beras singkong yang terbuat dari singkong yang digiling menjadi tepung ini menjadi makanan pokok warga kampung adat tersebut yang masih terjaga hingga kini.
    Kesibukan kecil tampak dari dapur keluarga Emen Sunarya (75), Rabu (10/8) siang. Cicih (66), istri Emen, sedang menyiapkan makan keluarga untuk sore hari. Sebakul rasi (nasi singkong) sudah terlebih dulu terhidang di meja makan. Tak boleh ketinggalan, rasi adalah yang terpokok. ”Ini identitas kami,” kata Emen.

   Jauh-jauh hari sebelum program diversifikasi pangan yang kini dikampanyekan pemerintah membahana, Emen dan lebih dari 200 warga lainnya di Kampung Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok sejak tahun 1924.

   Ajaran karuhun (leluhur) yang terikat dalam kepercayaan Sunda Wiwitan membuat mereka segan melanggar tradisi memakan rasi. Kendati demikian, warga yang menganut Sunda Wiwitan hidup rukun dan berdampingan dengan warga kampung lainnya yang sudah beralih kepercayaan. Bahkan, perkawinan campuran lazim terjadi.

   Emen yang dalam kesehariannya dipanggil dengan Abah Emen lantaran perannya sebagai tetua adat menuturkan, ajaran memakan rasi itu adalah upaya untuk merdeka lahir dan batin dari segala ikatan, yang pada masa lalu berupa penjajahan Belanda.

   Sekalipun penjajahan telah berakhir, namun kebiasaan memakan rasi itu tidak akan digeser. ”Yang mau berganti makan nasi silakan berganti. Tetapi saya akan tetap makan rasi, ini sudah jadi ajaran karuhun yang harus dilestarikan,” katanya.

   Kenyataan bahwa pada masa sekarang diversifikasi pangan makin digalakkan karena kondisi cuaca ekstrem dan makin berkurangnya areal pertanian, Abah Emen melihatnya sebagai bagian kecil dari keuntungan mengikuti ajaran karuhun untuk makan rasi ialah warganya kini tak repot mencari beras.

   Dalam kehidupan sehari-hari, warga kampung yang bepergian jauh pun membawa bekal rasi. Ba’riat (60), salah satu warga Cireundeu menuturkan, jika keluarganya bepergian jauh, ia terbiasa membawa rasi, buah atau sayuran. Begitu pula saat bertamu dan dihidangkan makanan nasi beras, mereka akan berterus-terang untuk tidak memakannya. ”Ada banyak pilihan makanan, bisa makan yang lainnya, seperti lauk ikan, tahu, tempe, atau sayuran,” katanya.

 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru

   Tidak hanya pantang makan beras, warga Cireundeu juga tidak mengonsumsi biji-bijian sejenis padi, termasuk ketan.

   Antropolog dari Universitas Padjadjaran, Budi Rajab, mengatakan, tindakan yang dilakukan masyarakat adat sesungguhnya tidak melulu didasarkan pada pertimbangan kepercayaan. Pertimbangan rasional kuat berpengaruh, terutama untuk bisa bertahan hidup. Pilihan makan rasi pun didasari pada kondisi lingkungan yang memang tidak cocok ditanami padi.

   Pada perkembangannya kebiasaan itu ditransformasi menjadi keuntungan ekonomis yang menopang kehidupan warga kampung. Hal itu terbukti, misalnya, jika melihat kehidupan warga Cireundeu sekarang yang relatif berkecukupan dengan mengolah singkong menjadi aneka produk makanan.

Bernilai ekonomis
    Abah Emen menuturkan, dari 286 keluarga di kampung itu, hampir semuanya memiliki ladang singkong. Warga menanam singkong di jajaran bukit yang mereka anggap gunung, yakni Pasir Panji, Gunung Jambul, Gunung Gajah Langu, Gunung Puncak Salam, dan Gunung Cimenteng. Luasan daerah perbukitan itu sekitar 800 hektar (ha), dan 25 ha di antaranya ditanami singkong. Jenis singkong yang ditanam umumnya karikil, yakni jenis yang tidak disenangi babi hutan.

    Rusmana (52), contohnya, mengelola 0,3 ha lahan. Dari luasan lahan itu, ia bisa memanen 5 ton singkong. Walaupun panen setiap tahun, pada praktiknya ia bisa panen setiap bulan. Sebab, lahan singkongnya dibagi lagi menjadi delapan petak yang masa panennya tidak berbarengan.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Suhanda (61) merawat dan membersihkan lahan perkebunan singkongnya di perbukitan Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, Jumat (23/9)

   ”Setelah dipanen, singkong dikuliti dan dibersihkan. Untuk bisa jadi tapioka (aci), singkong digiling dulu, diperas, dan diendapkan sehari semalam,” tutur Rusmana.

   Dari satu kuintal singkong bisa dihasilkan 30 kilogram (kg) tapioka dan 10 kg ampas singkong. Ampas singkong tidak begitu saja dibuang, melainkan dijemur sampai dua hari dan kembali digiling hingga berbentuk bubuk yang disebut dengan rasi (beras singkong). Rasi inilah yang sehari-harinya dikonsumsi warga Cireundeu.

   Untuk proses pengolahan singkong menjadi tapioka dan rasi, Rusmana tidak bersusah-payah. Kerukunan dan rasa gotong-royong yang tinggi di antara warga membuat mereka saling membantu ketika ada rekan petani yang panen. ”Semua warga di sini bukan orang lain, saudara semua,” ungkapnya.

   Rusmana menceritakan, awalnya yang dijual dari singkong hanya tepung tapiokanya yang dihargai Rp 5.000 per kg. Namun, dua tahun terakhir banyak permintaan rasi dari luar daerah kepada kelompok petani singkong Cireundeu. ”Dulu, siapa saja yang ingin rasi, ya silakan ambil saja. Tetapi sekarang rasi dihargai sampai Rp 4.000 per kg,” katanya.

   Asep Wardiman (40), Ketua Kelompok Petani Singkong Cireundeu menjelaskan, rasi digemari karena kadar gulanya rendah dan baik dikonsumsi penderita diabetes. Dari 100 gram kandungan gizi rasi terdiri dari 359 kalori energi, karbohidrat 86,5 gram, protein 1,4 gram, dan lemak 0,9 gram. Standar gizi 100 gram beras setara dengan 120 gram singkong.

   Warga pun mengolah rasi menjadi kerupuk dan aneka penganan. Kerupuk singkong, misalnya, kini digemari dan harganya cukup mahal. ”Delapan biji kerupuk mentah dihargai Rp 1.000. Begitu juga dengan kulit singkong yang dijadikan dendeng,” kata Ba’riat yang mengoperasikan mesin penggiling singkong milik kelompok tani.

   Istri Ba’riat kerap menjual sayur daun singkong di pasar. Kayu singkong yang kering biasa dipakai kayu bakar. Ubi singkong pun acap kali difermentasi menjadi tape (peuyeum) yang nikmat.

Perlu aksi nyata
   Marleen Sunyoto, peneliti dan pengajar dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad, mengatakan, kemandirian pangan yang dijalani warga Cireundeu memerlukan waktu puluhan tahun dan dilandasi atas kesadaran kolektif yang kuat antarwarga.

   Dalam upaya pemerintah mengantisipasi krisis pangan yang dipicu anomali cuaca dan menyempitnya lahan pertanian, khususnya padi, menggalakkan kembali konsumsi makanan pokok selain padi adalah suatu keharusan. Namun, kebijakan itu harus disertai dengan perencanaan matang, terutama dengan mengoptimalkan potensi lokal.

   Sebagai contoh, dulu masyarakat Madura dikenal mengonsumsi jagung, sama halnya dengan Maluku yang mengonsumsi sagu. Namun, selama bertahun-tahun pemerintah mengintroduksi beras sebagai makanan pokok, sehingga ketergantungan sangat tinggi pada beras, termasuk di Madura dan Maluku.

   ”Untuk mengubah pola pikir dan pola makan masyarakat itu susah. Hal yang mesti dilakukan ialah memberikan contoh,” kata Marleen

KOMPAS/BESTARI

   Sejak pertengahan Juli lalu, Jawa Barat menggulirkan program one day no rice. Namun, kebijakan itu belum terasa implementasinya kalau tidak disertai aksi nyata. ”Percuma juga jika kebijakan one day no rice hanya berlaku di jajaran elite pemerintahan, sedangkan di tingkat bawah masih mengonsumsi nasi. Hanya pengurangan konsumsi beras, tapi itu bukan berarti diversifikasi pangan,” jelas Marleen.

   Lebih-lebih jika masyarakat salah memaknai sehari tanpa nasi artinya bisa makan apa pun selain beras, misalkan dengan banyak makan roti. Padahal, Indonesia masih impor gandum sebagai bahan dasar terigu pembuat roti.

   Pemda Jabar, kata Marleen, bisa membantu teknologi pengolahan pangan selain beras di beberapa daerah untuk mendorong diversifikasi pangan. Sejumlah daerah di Ciamis, misalnya, terbiasa mengonsumsi umbi ganyong. Daerah itu bisa dibantu dengan penyuluhan dan pemberian mesin pengolahan ganyong. Di sisi lain, program fortifikasi pangan atau penambahan zat-zat gizi pada makanan pokok selain beras juga bagian dari diversifikasi pangan.

Warga Kampung Cireundeu telah memberikan contoh, soal pangan adalah juga soal identitas diri. Bangsa yang tidak memiliki kemandirian pangan sejatinya adalah bangsa yang tidak berkarakter dan nihil identitas.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.