Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Kampung Betawi, Ditolong Pantun dan Humor
Senin, 12 September 2011 | 13:37 WIB

Oleh Irene Sarwindaningrum, Harry Susilo, dan Herpin Dewanto

Kompas/Bahana Patria Gupta
Pesilat berlatih gerakan aliran cingkrik di Sanggar Kesenian Betawi Si Pitung di Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (28/8). Seni beladiri pencak silat Betawi tersebut pada masa lalu dipergunakan untuk melawan penjajah, kini terus dikembangkan sebagai seni budaya.
  "Humor melekat dalam kultur Betawi, hingga mewarnai keseharian mereka. Di tengah kerasnya Jakarta, humor menjadi daya tahan masyarakat Betawi menghadapi berbagai tekanan Ibu Kota. Humor dan pantun jadi suguhan saat berlebaran.”

   Gelar tikar berlebaran, ketemu wewe pake celana. Hari ini hari Lebaran, makan kue semua sama,” demikian lontaran pantun jenaka Suwarno Ayub (66) saat mempersilakan tamunya mencicipi kue-kue Lebaran di ruang tamunya di Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (1/9).

Berlebaran di tengah masyarakat Betawi, canda dan pantun jenaka turut menjadi sajian. Silaturahim terasa hangat dan riang dengan kejenakaan ini.

   Generasi tua Betawi tampaknya lebih luwes mengolah banyolan. Begitu mudah orang Betawi membuat banyolan.

  Dalam peristiwa sedih sekalipun, humor Betawi tetap mewarnai.

   Ketua Sanggar Si Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat, Bachtiar (40) mengatakan, bahkan kematian bisa menjadi bahan canda. ”Kalau sampai ada kematian di hari Lebaran, orang Betawi masih bisa bilang, kok matinya hari ini sih, gak bisa diundur ape?” tuturnya.

   Dengar pula Khotib (50), pemimpin Yayasan Si Pitung, yang melucu soal guru silat cingkrik andalan Rawa Belong, Suwarno Ayub (66). ”Dia ini guru besar silat cingkrik. Kalau die mati, gak kami kuburin kali die ini,” katanya.

   Tak ada maksud kasar dalam candaan ini. Khotib bermaksud menunjukkan betapa berharga guru silat semumpuni Suwarno.

 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru

   Humor begitu identik sebagai karakter khas Betawi. Sejumlah tokoh Betawi lahir dari sini. Sebut saja Benyamin dan Mandra.

   Namun, humor Betawi bermakna lebih dalam dari sekadar banyolan. Dalam bukunya, Ketawa Ketiwi Betawi, penulis Abdul Chaer menyebut humor adalah kecendekiaan masyarakat Betawi. Meskipun sederhana, dibutuhkan kecerdasan untuk menghasilkan banyolan.

   Sejarawan muda JJ Rizal menilai, humor adalah kekuatan orang Betawi untuk bertahan dari tekanan. ”Sejarah Betawi, dari zaman Belanda hingga sekarang, sarat tekanan. Humor menjadi cara mereka menjaga kewarasan,” kata Rizal.

   Di zaman Belanda, Betawi tertindas kerja paksa. Sekarang, mereka pun masih identik dengan kemiskinan, pendidikan rendah, dan sulit cari kerja.

   Rizal yang asli Betawi mengatakan, masyarakat Betawi selalu menjadi warga nomor dua di kampung halaman sendiri. Ini salah satunya karena keberpihakan pemerintah masih sangat minim. Betawi sebenarnya suku yang baru saja teridentifikasi, yaitu sekitar tahun 1928. Saat itu, petugas sensus Belanda menemukan 80.000 orang yang tak diketahui identitas kesukuannya. ”Mereka bukan Sunda, bukan Jawa, bukan Tionghoa. Akhirnya dinamai Batavian, yang di lidah pribumi jadi Betawi,” kata Rizal.

   Masyarakat itu merupakan peleburan dari sejumlah suku bangsa di Batavia melalui kawin campur. Keturunan mereka jadi kaum kosmopolitan yang lepas dari suku asalnya. ”Belanda berusaha mencegah peleburan suku ini. Tapi, siapa yang bisa mencegah cinta?” ujar Rizal.

   Lance Castles dalam bukunya, Profil Etnik Jakarta, menyebut Jakarta sebagai kota paling Indonesia karena kemajemukannya. Tradisi Betawi pun merupakan campuran sejumlah tradisi suku bangsa asalnya.

   Baju pengantin perempuan yang diambil dari gaya Tionghoa atau kue-kue yang diadopsi dari Belanda. ”Tapi jangan salah, mereka tak hanya meniru, tapi juga mengembangkan sehingga menjadi khas Betawi,” ucap Rizal.

Kompas/Bahana Patria Gupta
Pesilat berlatih gerakan aliran cingkrik di Sanggar Kesenian Betawi Si Pitung di Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (28/8)
Perubahan besar
   Saat ini orang Betawi menghadapi perubahan besar. Pesatnya laju pembangunan dan urbanisasi Jakarta menggerus cara hidup agraris yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.

   Kampung Rawa Belong, misalnya, berubah pesat dari pertanian anggrek menjadi deretan padat rumah indekos, kontrakan, dan pertokoan. Hamparan kebun anggrek lenyap dalam waktu 10 tahun. ”Sebelum tahun 1990, daerah ini hamparan kebun anggrek. Tahun 2000, tak terlihat lagi kebun anggrek. Hanya gedung-gedung,” kata Masfufah (59), warga Rawa Belong.

   Dari bertani, kehidupan warga Rawa Belong pun bergeser menjadi pedagang bunga, usaha dekorasi, serta pemilik rumah indekos atau kontrakan.

   Hal serupa terjadi di Desa Setu Babakan. Samin (81), misalnya, kini bergantung pada warung di depan rumahnya setelah sawahnya terjual habis.

   Di tengah gerusan ini, mempertahankan identitas Betawi menjadi tantangan. Di Rawa Belong, Sanggar Si Pitung melestarikan silat cingkrik dan lenong sejak 1965. Semua dilakukan secara swadaya.

   Bachtiar mengatakan, seni dan tradisi merupakan cara mengukuhkan keberadaan mereka di kampung halaman sendiri.

   Di Setu Babakan, beberapa sanggar lenong dan gambang kromong tampil bergantian tiap pekan. Situs kampung Betawi lainnya di Jakarta, misalnya Marunda di Jakarta Utara, dipercaya sebagai rumah tinggal Si Pitung.

   Desakan zaman juga membuat masyarakat Betawi kian sadar akan pentingnya pendidikan. Orang Betawi yang dulu tak terlalu peduli sekolah kini berubah. ”Semua anak saya sekarang sudah kuliah. Kalau tidak, kami akan kalah dari pendatang,” kata Rozak (54), warga Betawi di Palmerah.

   Namun, geliat masyarakat ini—menurut warga Betawi—belum dapat dan belum cukup perhatian pemerintah. ”Kami tak pernah dapat bantuan. Dari dana sampai tempat pentas, harus usaha sendiri,” kata Khotib.

   Tanpa banyak bantuan pemerintah, komunitas-komunitas Betawi kini harus berjuang. Cita-cita mereka, mengukuhkan diri di kampung halaman sendiri.... Seiring dengan itu, humor Betawi menjadi bumper yang membuat tantangan terasa lebih ringan.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.