Selasa, 23 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Perlawanan Sikap Generasi Kiai Song
Sabtu, 13 Agustus 2011 | 17:51 WIB

Oleh A Budi Kurniawan dan Thomas Pudjo Widiyanto

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Pekerja memperindah gerabah yang berbahan baku tanah liat di studio Timboel Keramik di kawasan sentra industri gerabah Kasongan, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (11/8).

 

    Sejarah masyarakat Kasongan di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, tak bisa lepas dari perjuangan Kiai Song, salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Pasca-penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda tahun 1930, Kiai Song yang bergelar Kiai Guru Kasongan Ngabdul Raupi ini tetap melakukan perlawanan secara diam-diam.

   Perlawanan itu dilakukan Kiai Song dengan cara mengajak warga agar tidak bertani, tetapi beralih profesi menjadi pekundi atau pembuat peralatan dapur dari tanah liat. Kepada masyarakat, ia mengajarkan keahlian baru sebagai perajin gerabah.

   Tokoh masyarakat Kasongan, Timbul Raharjo, memaparkan, imbauan Kiai Song agar warga tak bercocok tanam disebabkan sebagian hasil pertanian masyarakat saat itu harus diserahkan kepada Pemerintah Belanda. Dengan menjalankan strategi perjuangan nonfisik sebagai pekundi (berasal dari kata kundi yang juga berarti kendi, tempat air minum dari tanah liat), diharapkan lahan persawahan di sekitar Kasongan menjadi tidak subur dan tak bisa ditanami setelah tanahnya diambil untuk bahan baku pembuatan gerabah.

   Dalam buku Historisitas Desa Gerabah Kasongan yang ditulis Timbul disebutkan, ketakutan warga Kasongan terhadap Pemerintah Belanda digambarkan dengan sikap warga setempat yang melepaskan hak tanahnya ketika ditemukan seekor kuda milik reserse Belanda yang meninggal tepat di atas lahan mereka. Waktu itu, tak ada warga yang bersedia mengaku kepemilikan tanah tersebut.

   Kisah ini sejalan dengan fenomena masyarakat Kasongan, di mana sebagian besar dari mereka tak memiliki lahan pertanian. Karena itu, tak heran jika selama bertahun-tahun mereka menggantungkan hidup sebagai pembuat gerabah.

   Kepercayaan masyarakat setempat tentang kisah Kiai Song hingga sekarang masih kuat. Bahkan, mereka yakin jika Kiai Song merupakan cikal bakal penduduk Kasongan. Makam leluhur Kasongan ini berada di Dusun Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul.

 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru

Kampung seni 
    Tahun 1935, muncul seorang tokoh perajin gerabah bernama Mbah Jembuk alias Soikromo yang merintis pembaruan konsep perubahan kreasi gerabah dari sekadar sebagai alat rumah tangga menjadi kerajinan yang menarik perhatian orang-orang Belanda.

   Karya baru seperti malaikat (angel), macan, dan loro blonyo mendapatkan perhatian dari Pemerintah Belanda.

   Konon, Belanda dikabarkan pernah memesan patung-patung macan dan memasangnya di dam-dam sebagai penanda bahwa bangunan tersebut dibuat oleh mereka. Karya keramik patung angel yang muncul seputaran tahun 1935 itu diduga merupakan pengaruh Barat, bahkan tidak menutup kemungkinan dipengaruhi oleh kreator Belanda, seniman Belanda.

   Kekuatan Kasongan sebagai sentra seni keramik telah mendorong bangkitnya sentra usaha keramik di Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Bantul. Sejak tahun 1990-an, ekonomi masyarakat di Dusun Jetis, Pagutan, dan Kolobayan menggeliat setelah mereka menekuni pembuatan gerabah berukuran kecil yang banyak dibutuhkan untuk suvenir, seperti tempat lilin, vas bunga, dan pot mini. Masyarakat di tiga dusun ini menjadi penyetor gerabah mini di sejumlah galeri di Kasongan.

   ”Satu minggu sekali saya membakar 1.000 biji gerabah. Gerabah setengah jadi lalu kami setor ke Kasongan untuk dicat dan dijual. Lumayan, rumah kami yang dulu hanya gedek (anyaman bambu) sekarang sudah permanen karena usaha ini,” kata Temu (49), seorang perajin gerabah mini di Pundong.

   Dari sekitar 400 keluarga di tiga dusun tersebut, selain bertani, 90 persen di antaranya memiliki mata pencarian sebagai perajin gerabah.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Mbah Dul Kasim (75) menjemur gerabah berbahan baku tanah liat untuk suvenir pesta pernikahan di Dusun Jetis, Desa Panjangrejo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (11/8). Warga dusun tersebut yang mayoritas berprofesi sebagai petani sejak sekitar tahun 1990-an mulai menekuni usaha pembuatan gerabah suvenir untuk menambah penghasilan mereka.

   Sama seperti warga Kasongan, sebagian besar masyarakat di tempat ini tak memiliki lahan pertanian. Kalaupun ada, hanyalah beberapa ratus meter persegi sehingga tak bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuan hidup.

   Belakangan, Kasongan memang berkembang semakin jauh. Di sepanjang Jalan Kasongan tidak hanya ada pajangan karya-karya keramik, tetapi juga macam-macam suvenir dari bahan kayu, logam, hingga fiber.

   Perkembangan Kasongan sepertinya mengarah ke kawasan kampung seni, seperti halnya kawasan Ubud di Bali. Artinya, kawasan Kasongan sekarang seperti menjadi wahana sejumlah seni rupa.

   Bahkan, Kasongan secara langsung atau tidak langsung telah menjadi semacam laboratorium bagi mahasiswa Jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta.

   Di samping embrio sebagai kawasan seni kriya dimotori oleh Mbah Jembuk, menurut seniman Bondan Nusantara, perjalanan Kasongan sebagai kawasan seni memang terlihat dan berjalan linier dari waktu ke waktu.

   Kasongan, menurut Bondan, sejak dulu menjadi gudangnya kelompok-kelompok seni ketoprak.

   ”Sejak tahun 1970 saya selalu sibuk untuk melatih seni ketoprak di dusun seputaran Kasongan. Ketika pola pikir dan paradigma perajin gerabah Kasongan diubah dari produsen gerabah rumah tangga menjadi kerajinan seni, terjadi perubahan luar biasa. Terdapat proses perjalanan kreatif di dalamnya,” kata Bondan Nusantara, yang memang bertempat tinggal di Kasongan.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Pekerja memperindah gerabah yang berbahan baku tanah liat di studio Timboel Keramik di kawasan sentra industri gerabah Kasongan, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (11/8).

   Salah satu sentra perajin wayang kulit di Yogyakarta adalah Dusun Gendeng, Bangunjiwa, Kasihan, dan Bantul yang bersebelahan dengan Kasongan. Produk wayang kulit itu diekspor ke sejumlah negara. Dusun ini terkenal sebagai penghasil wayang kulit dengan kualitas yang bagus sejak tahun 1929.

   Orang yang memelopori pembuatan wayang kulit di tempat ini adalah Walijo (almarhum) alias Atmosukarto. Sekalipun namanya demikian, ia justru terkenal dengan nama panggilan Pak Pujo. Selain sebagai perajin wayang kulit, ia juga dikenal sebagai dalang, penari wayang wong, dan pengrawit.

 Cobaan krisis global

    Pasar ekspor keramik dan gerabah itu pada 2008 mengalami kendala seiring terjadinya krisis global dunia. Pesanan gerabah menyusut 75 persen sampai 80 persen.

   Rupanya, efek krisis global ini justru lebih besar dibandingkan dengan fenomena gempa bumi tahun 2006 yang pernah menghancurleburkan Bantul.

   Meski demikian, perjuangan para perajin gerabah Kasongan berhasil menyelamatkan industri ini dari cobaan krisis global.

Bagi Parinem (49), salah satu perajin gerabah di Dusun Sentanan, Kasongan, krisis global tidak membuat usahanya berhenti total.

   ”Setelah pasar agak sepi dua tahun terakhir, saya kembali membuat gerabah untuk keperluan rumah tangga, seperti keren, kendil, cowek, atau pengaron. Jika pasar sudah mulai membaik, saya akan membuat lagi sejumlah macam kerajinan gerabah,” kata Parinem.

   Ekonom Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sri Adiningsih, melihat adanya tantangan yang lebih besar dalam bisnis kerajinan keramik. Tantangan tersebut berasal dari produk-produk keramik luar negeri, khususnya China, yang murah, memiliki desain variatif, dan berkualitas.

Kompas/Andri

   ”Agar bisa bersaing di pasar dalam dan luar negeri, para perajin Kasongan harus meningkatkan kualitas dan memperkaya desain. Selain itu, usaha ekspansi pasar ke luar negeri harus lebih bagus,” kata Adiningsih.

   Sampai saat ini, di Kasongan masih terdapat 581 industri rumah tangga dengan total omzet sekitar 20 kontainer per bulan atau senilai Rp 1,5 miliar setiap bulannya.

    Dengan perkiraan jumlah tenaga kerja di setiap industri gerabah sekitar tujuh orang, roda ekonomi industri ini setidaknya mampu melibatkan minimal sekitar 4.109 tenaga kerja.

    Jumlah ini belum termasuk industri gerabah skala menengah yang secara keseluruhan mempekerjakan 50-100 karyawan.

    Sebagai kawasan seni, Kasongan memang kian nyata. Hanya saja, tampaknya dibutuhkan kebijakan panutan dan terus-menerus dari pemangku pemerintahan untuk terus menata dan mempromosikannya sehingga kawasan seni itu akan semakin nyata.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.