Kamis, 30 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Kuda-kuda Sumba, Kuda Pemandu Sukma
Sabtu, 9 Juli 2011 | 11:43 WIB

Oleh Kornelis Kewa Ama dan Jannes Eudes Wawa

Kompas/Eddy
Pemuda di warga Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur, NTT menjinakan kuda liar dengan merendamkannya di kali Rindi yang berada tak jauh dari kampung adat Praiyawang, Senin (13/6). Merendam kuda dan menungganginya di dalam air merupakan salah satu dari cara waga setempat menjinakan kuda, selain dengan menungganginya secara langsung di dalam kandang

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka
Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda
Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

   Itulah sepenggal sajak berjudul ”Beri Daku Sumba” karya Taufiq Ismail tahun 1970. Sajak tersebut setidaknya menggambarkan betapa kuda sulit terpisahkan dari pergulatan hidup masyarakat Sumba. Hamparan ribuan hektar padang sabana tidak saja menjadi habitat pengembaraan hewan itu, tetapi juga menjadi pesona alam nan indah.

  Kuda memang segalanya bagi masyarakat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Hewan ini tidak semata-mata digunakan untuk mengangkut barang, tetapi juga sebagai hewan tunggangan dan pacuan. Kuda pun menjadi bagian terpenting dalam urusan sukacita (maskawin) dan kematian, termasuk pula sebagai ukuran status sosial setiap keluarga. 

   ”Dalam masyarakat Sumba, ada istilah bagga ole urra, ndara ole dewa, yang melukiskan bahwa kehidupan orang Sumba sulit terpisahkan dari kuda. Adat telah mewajibkan kuda menjadi salah satu maskawin terpenting. Dalam urusan kematian pun, kuda menjadi salah satu hewan utama yang wajib disembelih bersama kerbau sebagai penghormatan terhadap orang yang meninggal,” tutur Dr Piet Tanggubera, antropolog dari Universitas Nusa Cendana, Kupang.

   Jika yang meninggal masih bangsawan, saat yang bersangkutan tutup usia,  kuda tunggangan yang dipakai selama hidupnya langsung disembelih. Ketika jenazah diturunkan dari rumah duka, disembelih lagi 4, 8, atau 16 kuda sesuai status sosial yang disandang. Kuda dengan jumlah sama disembelih pula saat jenazah diturunkan ke liang lahat.

   Bagi Umbu Marambu Meha (53), tokoh masyarakat Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, dalam kebudayaan Sumba diyakini, setiap warga yang meninggal selalu dijemput para leluhur menuju alam baka. Perjalanan menuju alam baka itu harus menunggang kuda, seperti dilakukan semasa hidupnya.



 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru


   Itu sebabnya penyembelihan kuda tunggangan sebagai penghormatan kepada yang meninggal. ”Para leluhur yang menjemput pun pasti bangga dengan persembahan itu. Kami meyakini para leluhur bersama orang yang meninggal akan mendoakan untuk keselamatan sanak saudaranya yang masih hidup,” ujar Umbu Marambu yang juga keturunan bangsawan.

   ”Itu sebabnya seseorang dapat dianggap kurang bermartabat jika saat meninggal tidak ada kuda yang disembelih. Seorang raja kalau berjalan kaki sama saja dengan turun martabatnya,” tutur Umbu Marambu.

   Tidak mengherankan, hampir setiap keluarga orang Sumba memiliki minimal satu kuda. Bahkan, pada masa silam, dari 10 keluarga, 7 keluarga di antaranya pasti memelihara kuda. Seseorang baru diakui ketokohannya setelah dilihat jumlah kuda yang dimiliki.



Kompas/Eddy Hasby
Dilu Dulu Awang (kanan) menjinakkan kuda dengan menunggang langsung kuda liar di kawasan Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Sumba Timur, NTT, Selasa (14/6).

Selalu terdata
   Pulau Sumba, dengan luas 10.710 kilometer persegi, memiliki ribuan hektar padang sabana yang menjadi habitat hewan besar, terutama kuda dan kerbau.

  Kuda-kuda itu umumnya dilepas di padang sabana dan baru dikumpulkan di dalam kandang jika hendak diikat untuk keperluan pemiliknya. Sebelum dilepas, kuda yang dikenal dengan sandalwood itu biasanya dilatih dan dijinakkan.

   Selama penjinakan itu, menurut Bram Tako (30), warga Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, kuda-kuda dilatih hidup berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 10 atau 20 kuda betina dan 1 kuda jantan. ”Ini agar terjalin kekompakan sehingga, sewaktu kuda dilepas di padang, solidaritas terjaga,” ujar Bram yang memiliki 60 kuda sandalwood.

   Pengelompokan kuda dilakukan untuk memudahkan pengawasan. Selain itu, di paha kaki luar kuda selalu diberi cap dengan kode khusus pemiliknya. Pemberian cap, menggunakan besi yang dipanaskan, dilakukan saat kuda berusia enam bulan. Kode itu tak akan hilang selamanya.

   ”Semua kuda di Sumba sudah terdata sejak lahir. Jika kuda itu dipindahtangankan ke pihak lain atau mati, pemiliknya wajib melaporkan kepada petugas dinas peternakan setempat,” kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat Daya Thimotius Bulu.

  &nbspJumlah kuda di Sumba pada tahun 2010 sebanyak 54.783 ekor, meliputi 36.458 ekor betina dan 18.325 ekor jantan. Sekitar 80 persen di antaranya adalah kuda sandalwood.

   Kuda sandalwood disebut-sebut telah hadir di Sumba sejak abad ke-16. Kuda asli ini memiliki tinggi badan 115-120 sentimeter dengan bentuk kepala umumnya besar dan tegak, sinar mata hidup, daun telinga kecil, dengan leher yang tegak dan lebar. Lalu, tengkuknya kuat, punggung lurus, kaki berotot kuat, dan perut langsing. 

   Kondisi alam yang keras dan gersang ikut membentuk fisik kuda sandalwood memiliki stamina kuat. Itu sebabnya, awal abad ke-18, penjajah Belanda mendatangkan kuda dari Eropa yang berpostur tinggi dan berlari cepat dikawinkan dengan kuda sandalwood. Tujuannya, mendapatkan kuda berpostur tinggi, berlari cepat, dan bertenaga kuat. Kuda hasil kawin silang itu memiliki tinggi 130-165 sentimeter dan berpostur ramping, tetapi bertenaga dan berlari cepat.





   Memang, di hadapan masyarakat Sumba, kuda (termasuk anjing) menjadi hewan terpenting. Setiap kali ada pemiliknya keluar rumah sambil menunggang kuda, di belakangnya pasti ikut pula seekor anjing.

    Anjing dianggap sebagai hewan yang setia terhadap tuannya dalam segala suasana, termasuk dalam kesukaran. Sebaliknya, kuda menjadi sahabat sejiwa. ”Dalam menunggang kuda, jiwa kuda dan sang penunggang harus menyatu. Jika jiwa itu telah menyatu, semua yang diinginkan pasti terwujud,” kata Bram Tako.

   Jadi, pemeliharaan kuda di Sumba selama ini adalah bagian dari upaya melanjutkan tradisi leluhur mereka. Sebab, kuda-kuda Sumba bukan sebatas punya fungsi ekonomis seperti di daerah lain, melainkan juga sebagai pemandu sukma

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.