Sabtu, 28 Januari 2012
Selamat Datang   |      |  
Candi Muaro Jambi
Peninggalan Budha untuk dunia
Laporan wartawan KOMPAS Timbuktu Harthana
Senin, 8 Februari 2010 | 08:25 WIB

Oleh Timbuktu Harthana

TIMBUKTU HARTHANA
Candi Tinggi, merupakan salah satu candi di komplek percandian Candi Muaro Jambi yang kondisinya hampir utuh, Senin (4/1). Tidak utuhnya kondisi candi karena bahan pembuat candi adalah batu bata yang mudah korosi oleh cuaca. Diperkirakan masih terkubur 82 candi yang komplek percandian ini, seluas 2.062 ha. Adapun candi yang telah dan sedang dipugar ada sekitar 12 candi. Kompas/Timbuktu Harthana (THT) 04-01-2010 Local Caption Candi Tinggi, merupakan salah satu candi di komplek percandian Candi Muaro Jambi yang kondisinya hampir utuh. Tidak utuhnya kondisi candi karena bahan pembuat candi adalah batu bata yang mudah korosi oleh cuaca. Diperkirakan masih terkubur 82 candi yang komplek percandian ini, seluas 2.062 ha. Adapun candi yang telah dan sedang dipugar ada sekitar 12 candi.
Candi Muaro Jambi merupakan kompleks percandian kuno sisa peninggalan masa keemasan agama Buddha di Nusantara, sekitar abad VII-XIV. Candi yang terletak sekitar 35 kilometer sebelah utara Kota Jambi, tepatnya di Kecamatan Muara Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi menyimpan keagungan budaya yang belum tergali.

Kita bakal takjub karena luas kompleks percandian ini mencapai 2.062 hektar atau mencapai dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan
dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja. Bahkan, kompleks percandian Candi Muaro Jambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.

Tercatat ada 11 candi utama yang ditemukan dan sebagian sudah dipugar, di antaranya Candi Gumpung, Candi Tinggi dan Tinggi I, Gedong I dan II, Kedaton, Koto Mahligai, Astano, Teluk I dan II, Bukit Sengalo, dan Kembar Batu. Hamparan candi itu belum termasuk 82reruntuhan candi yang diperkirakan masih terkubur di dalam puluhan gundukan tanah, atau biasa disebut menapo oleh warga sekitar candi.

Candi Muaro Jambi
Keunikan lain dari candi tersebut, memiliki kanal-kanal penghubung antarcandi. Candi-candi yang tersebar di antara kanal inilah menjadi khas dari arsitektur Kompleks Candi Muaro Jambi, yang tak ditemui di kompleks percandian lain di Nusantara. Namun saat ini, Kompleks Candi Muaro Jambi memang belum bisa dijelajahi menggunakan perahu, kecuali Candi Teluk I dan II, karena terletak di seberang Sungai Batanghari.
   
Agus Widiatmoko dari Bagian Publikasi dan Dokumentasi Peneliti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi meyakini, transportasi utama menuju ke candi kala itu menggunakan perahu. Sistem transportasi ini tak ubahnya seperti kanal-kanal di Kota Venesia saat ini.     Ada empat kanal yang telah diberi nama, yaitu Kanal Jambi, Melayu, Terusan, dan Parit Johor. "Selain kanal, ada Danau Kelari, sebuah danau kecil penghubung antarkanal," kata Agus.

Saat ini, jika ingin mengunjungi candi Muaro Jambi dari Kota Jambi, harus menempuh perjalanan 45 menit dengan kendaraan bermotor melewati jalan darat. Selain itu, Candi Muaro Jambi juga bisa diakses lewat jalur Sungai Batanghari. Menggunakan perahu ketek, dari kawasan wisata Tanggo Rajo di pusat  Kota Jambi, dengan waktu tempuh tak lebih dari 30 menit. Jika ingin merasakan budaya sungai masyarakat Jambi, rute Batanghari bisa menjadi pilihan. Ongkosnya sekitar Rp 200.000-Rp 250.000 per perahu ketek untuk 10-15 orang.

Kini, BP3 Jambi berjuang memasukkan Candi Muaro Jambi masuk dalam daftar warisan dunia (world heritage list) menyusul Candi Borobudur dan Prambanan, yang 19 tahun lebih awal telah tercatat di daftar itu. Perlahan, kawasan di sekitarnya mulai dibenahi dan disiapkan menjadi desa wisata, dengan harapan cita-cita besar tersebut segera tercapai.

 

Editor: admin Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.